PUTRA TERBAIK DARI MINANG
Ahmad Khatib bin Abdul Lathif Al- Minangkabawi
Tokoh yang kerap dikenal sebagai Syaikh Ahmad Khatib al- Minangkabawi ini lahir di Kota Tuo- Balai Gurah, IV Angkek Candung, Agam, Sumatra Barat, pada hari senin, 6 dzulhijjah 1274 H (1860 M) dan wafat di Tuanku Nan Rancak.
Ayahnya bernama Abdul Lathif yang berasal dari kota gadang.
Abdullah, Kakek Syaikh Ahmad Khatib al- Minangkabawi atau buyut menurut riwayat lain, adalah seorang ulama kenamaan. Oleh masyarakat kota gadang, Abdullah ditunjuk sebagai imam dan khatib. Sejak itulah gelar Khatib Nagari melekat di belakang namanya dan berlanjut ke keturunan di kemudian hari.
Putra minang yang menjadi imam besar masjidil haram dan orang yang pertama sebagai imam besar masjidil haram dari luar bangsa arab.
"kritis atas adat dan budaya minang kabau,terutama menolak adat minang tentang waris.
"tidak menginjak bumi minang sebelum adat dan budaya dirobah"
Gagasan Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi
Kegemarannya dalam mempelajari ilmu faraid memberikan perubahan besar terhadap adat minang. Dengan keilmuan dan keberaniannya yang tak diragukan, akhirnya beliau berhasil mengubah adat minang dalam membagi harta warisan yang sebelumnya bertentangan dengan islam yakni harta pusaka peninggaan keluarga diwariskan pada kemenakan perempuan dari garis kerabat perempuan. Sedangkan kemenakan laki-laki hanya menjadi pembantu dalam merawat dan memelihara harta pusaka tersebut. Dan berkat keberhasilan beliau, kini adat tersebut sudah sejalan dengan hukum islam. Bahwasannya harta warisan diberikan kepada anak kandung, dengan ketentuan anak laki-laki memperoleh dua kali lipat begian anak perempuan. Yang kemudian ditulis dalam kitab beliau yang berjudulad- da’ilmasmu’ fi raddi ala man yuriisul ikhwah wa auladil akhwat ma’a wujudil ushl wl furu’ dengan versi terjemahan al manhajul masyru’.
Ahmad Khatib bin Abdul Lathif Al- Minangkabawi
Tokoh yang kerap dikenal sebagai Syaikh Ahmad Khatib al- Minangkabawi ini lahir di Kota Tuo- Balai Gurah, IV Angkek Candung, Agam, Sumatra Barat, pada hari senin, 6 dzulhijjah 1274 H (1860 M) dan wafat di Tuanku Nan Rancak.
Ayahnya bernama Abdul Lathif yang berasal dari kota gadang.
Abdullah, Kakek Syaikh Ahmad Khatib al- Minangkabawi atau buyut menurut riwayat lain, adalah seorang ulama kenamaan. Oleh masyarakat kota gadang, Abdullah ditunjuk sebagai imam dan khatib. Sejak itulah gelar Khatib Nagari melekat di belakang namanya dan berlanjut ke keturunan di kemudian hari.
Putra minang yang menjadi imam besar masjidil haram dan orang yang pertama sebagai imam besar masjidil haram dari luar bangsa arab.
"kritis atas adat dan budaya minang kabau,terutama menolak adat minang tentang waris.
"tidak menginjak bumi minang sebelum adat dan budaya dirobah"
Gagasan Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi
Kegemarannya dalam mempelajari ilmu faraid memberikan perubahan besar terhadap adat minang. Dengan keilmuan dan keberaniannya yang tak diragukan, akhirnya beliau berhasil mengubah adat minang dalam membagi harta warisan yang sebelumnya bertentangan dengan islam yakni harta pusaka peninggaan keluarga diwariskan pada kemenakan perempuan dari garis kerabat perempuan. Sedangkan kemenakan laki-laki hanya menjadi pembantu dalam merawat dan memelihara harta pusaka tersebut. Dan berkat keberhasilan beliau, kini adat tersebut sudah sejalan dengan hukum islam. Bahwasannya harta warisan diberikan kepada anak kandung, dengan ketentuan anak laki-laki memperoleh dua kali lipat begian anak perempuan. Yang kemudian ditulis dalam kitab beliau yang berjudulad- da’ilmasmu’ fi raddi ala man yuriisul ikhwah wa auladil akhwat ma’a wujudil ushl wl furu’ dengan versi terjemahan al manhajul masyru’.
Mengenai murid- murid Syaikh Ahmad Khatib al-
Minangkabawi, Siradjuddin Abbas berkata bahwa sebagaimana dikatakan di atas
bahwa hampir ulama Syafi’i yang kemudian mengembangkan ilmu agama di indonesia,
seperti Syeikh Sulaiman al-Rasuli, Syeikh Muhdi Jamil Jaho, Syeikh Abbas Qadli,
Syaikh Musthofa Purba Baru, Syaikh Hasan Ma’sum Medan Deli dan banyak lagi
ulama- ulama Indonesia pada tahun-tahun bar XIV adalah murid dari Syaikh Ahmad
Khatib al-Minangkabawi (Thabaqatus Syafiiyah hal: 406). Ucapan senada juga
diungkapkan oleh penulis ensiklopedi ulama nusantara di banyak tempat. Bahkan
Dr. Kareel A. Steenbrink membuat satu pasal dalam beberapa aspek: guru untuk
generasi pertama kaum muda.
Diantara beberapa murid beliau adalah,;
Diantara beberapa murid beliau adalah,;
1.
Syaikh al-Karim bin Amrullah rahimahullah, ayah Buya Hamka. Seorang ulama
kharismatik yang memiliki pengaruh
besar di ranah minang dan indonesia. Diantara karya tulisnya adalah al-
Qaulush shalih yang membicarakan tentang nabi terakhir dan membantah paham
adanya nabi baru setelah nabi Muhammad terutama pengikut Mirza Ghulam Ahmad
Qadiyani.
2.
Muhammad Darwis alias KH. Ahmad Dahlan bin Abu Bakar bin Sulaiman
rahimahullah- pendiri Jamiyyah Muhammadiyah
3.
Muhammad Hasyim Bin asy’ari Tebuireng Jombang rahimahullah-
salah satu pendiri Jamiyyah Nahdlatul Ulama
4.
Ustadz Abdul Halim Majalengka rahimahullah-
pendiri Jamiyyah Ianatul Mutaallimin yang bekerja sama dengan Jamiyyah
Khairiyah dan al-Irsyad
5.
Syaikh Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad Afif al-Banjari rahimahullah-
mufti kerajaan Indragiri
6.
Muhammad Thaib Umar, dsb.
Suri
tauladan yang dianjarkan beliau kepada anaknya terutama tentang masalah TAUHID
seperti yang dikisahkan anak beliau yakni ABDUL HAMID AL KHATIB adalah,;
“Ketika kecilku dulu, jika aku meminta sesuatu dari ayahku, beliau akan berkata,’Mintalah kepada Allah, pasti Dia akan memberimu (apa yang kamu minta).’ Aku pun balik bertanya, ‘Memangnya Allah di mana, yah?’ ‘Dia berada di langit sana,’ jawab ayahku,’Dia dapat melihatmu, sedangkan kamu tidak melihat Nya.
’ Tidak selang berapa lama, ayahku pun mendatangiku dengan membawa apa yang kuminta seraya berkata, ‘ini, Allah telah mengirim kepadaku apa yang tadi kamu minta .’
Dulu juga jika aku meminta sesuatu kepada Allah dan tidak aku dapatkan, maka aku pun segera mengadu kepada ayahku,
‘Sesungguhnya aku telah meminta ini dan itu kepada Allah, tapi kok Allah tidak memberiku, ayah?’
Ayah pun segera menjawab,
‘Ini tidak mungkin terjadi kecuali jika kamu sendiri yang bikin Allah murka. Ya mungkin kamu sudah berlaku sembrono dalam ibadahmu, atau kamu terlambat shalat, atau mungkin kamu sudah menggunjing seseorang?
Maka bertaubatlah dan minta ampunlah kepada Allah, pasti Dia akan memberikan semua permintaanmu.
’ Aku pun segera melakukan wasiat ayahku, maka semua keinginanku pun dapat terwujud.”
“Ketika kecilku dulu, jika aku meminta sesuatu dari ayahku, beliau akan berkata,’Mintalah kepada Allah, pasti Dia akan memberimu (apa yang kamu minta).’ Aku pun balik bertanya, ‘Memangnya Allah di mana, yah?’ ‘Dia berada di langit sana,’ jawab ayahku,’Dia dapat melihatmu, sedangkan kamu tidak melihat Nya.
’ Tidak selang berapa lama, ayahku pun mendatangiku dengan membawa apa yang kuminta seraya berkata, ‘ini, Allah telah mengirim kepadaku apa yang tadi kamu minta .’
Dulu juga jika aku meminta sesuatu kepada Allah dan tidak aku dapatkan, maka aku pun segera mengadu kepada ayahku,
‘Sesungguhnya aku telah meminta ini dan itu kepada Allah, tapi kok Allah tidak memberiku, ayah?’
Ayah pun segera menjawab,
‘Ini tidak mungkin terjadi kecuali jika kamu sendiri yang bikin Allah murka. Ya mungkin kamu sudah berlaku sembrono dalam ibadahmu, atau kamu terlambat shalat, atau mungkin kamu sudah menggunjing seseorang?
Maka bertaubatlah dan minta ampunlah kepada Allah, pasti Dia akan memberikan semua permintaanmu.
’ Aku pun segera melakukan wasiat ayahku, maka semua keinginanku pun dapat terwujud.”
SATRIA BIN NAZARUDDIN WAHAB
Minggu, 11 Oktober 2015
Minggu, 11 Oktober 2015
No comments:
Post a Comment
COMENT PEASE !!!