Saturday, 19 March 2016

BUKTI BAHWA ABDUL MUTHALIB DAN ABDULLAH PENGANUT AGAMA TAUHID.

Tafsir AlAzhar karangan BUYA HAMKA: 

“Tidakkah engkau perhatikan?” (pangkal ayat 1). Atau tidaklah engkau mendengar berita: “Bagaimana Tuhan engkau berbuat terhadap orang-orang yang mempunyai gajah?” (ujung ayat 1).
Pertanyaan Allah seperti ini adalah untuk memperkuat berita penting itu, yang ditujukan mulanya kepada Nabi SAW namun maksudnya ialah untuk ummat yang percaya seumumnya.
Kisah orang-orang yang mempunyai gajah ini adalah tersebut dengan selengkapnya di dalam kitab Sirah Ibnu Hisham, pencatat riwayat hidup Nabi Muhammad SAW yang terkenal.
Ketika itu Tanah Arab bahagian Selatan adalah di bawah kekuasaan Kerajaan Habsyi. Najasyi (Negus) menanam wakilnya di Arabia Selatan itu bernama Abrahah. Sebagaimana kita ketahui, Kerajaan Habsyi adalah pemeluk Agama Kristen. Untuk menunjukkan jasanya kepada Rajanya, Abrahah sebagai Wakil Raja atau Gubernur telah mendirikan sebuah gereja di Shan’aa diberinya nama Qullais. Dibuatnya gereja itu sangat indahnya sehingga jaranglah akan tandingnya di dunia di masa itu. Setelah selesai dikirimnyalah berita kepada Najasyi: “Telah aku dirikan sebuah gereja, ya Tuanku! Dan aku percaya belumlah ada raja-raja sebelum Tuanku mendirikan gereja semegah ini. Namun hatiku belumlah puas orang Arab yang selama ini berhaji ke Makkah, aku palingkan hajinya ke gereja Tuanku itu.”
Berita isi surat yang pongah ini sampai ke telinga bangsa Arab, sehingga mereka gelisah. Maka bangkitlah marah seorang pemuka Arab karena tempat mereka berhaji akan dialihkan dengan kekerasan. Menurut Ibnu Hisyam orang itu ialah dari kabilah Bani Faqim in ‘Adiy. Maka pergilah dia sembunyi-sembunyi ke gereja itu, dia masuk ke dalam, dan di tengah-tengah gereja megah itu diberakinya. Setelah itu dia pun segera pulang ke negerinya.
Berita ini disampaikan orang kepada Abrahah. Lalu dia bertanya: “Siapakah yang membuat pekerjaan kotor ini?” Ada orang menjawab: “Yang berbuat kotor ini adalah orang yang membela rumah yang mereka hormati itu, tempat mereka tiap tahun naik haji, di Makkah. Setelah dia mendengar maksud Paduka Tuan hendak memalingkan haji orang Arab dari rumah yang mereka sucikan kepada gereja ini orang itu marah lalu dia masuk ke dalam gereja ini dan diberakinya, untuk membuktikan bahwa gereja ini tidaklah layak buat pengganti rumah mereka yang di Makkah itu.”
Sangatlah murka Abrahah melihat perbuatan itu, dan bersumpahlah dia; akan segera berangkat ke Makkah, untuk meruntuhkan rumah itu!
Dikirimnya seorang utusan kepada Bani Kinanah, mengajak mereka mempelopori naik haji ke gereja yang didirikannya itu. Tetapi sesampai utusan itu ke negeri Bani Kinanah dia pun mati dibunuh orang.
Itu pun menambah murka dan sakit hati Abrahah.
Maka disuruhnyalah tentara Habsyinya bersiap. Setelah siap mereka pun berangkat menuju Makkah. Dia sendiri mengendarai seekor gajah, diberinya nama Mahmud.
Setelah tersiar berita tentara di bawah pimpinan Abrahah telah keluar hendak pergi meruntuh Ka’bah sangatlah mereka terkejut dan seluruh kabilah-kabilah Arab itu pun merasalah bahwa mempertahankan Ka’bah dari serbuan itu adalah kewajiban mereka. Salah seorang pemuka Arab di negeri Yaman bernama Dzu Nafar menyampaikan seruan kepada kaumnya dan Arab tetangganya supaya bersiap menangkis dan menghadang serbuan ini. Mengajak berjihad mempertahankan Baitullah Al-Haram. Banyaklah orang datang menggabungkan diri kepada Dzu Nafar itu melawan Abrahah. Tetapi karena kekuatan tidak seimbang, Dzu Nafar kalah dan tertawan. Tatkala Abrahah hendak membunuh tawanan itu berdatang sembahlah dia: “Janganlah saya Tuan bunuh. Barangkali ada faedahnya bagi tuan membiarkan saya tinggal hidup.” Karena permohonannya itu tidaklah jadi Dzu Nafar dibunuh dan tetaplah Dzu Nafar dibelenggu. Abrahah memang seorang yang suka memaafkan.
Abrahah pun meneruskan perjalanannya. Sesampai di negeri orang Khats’am tampil pula pemimpin Arab bernama Nufail bin Habib Al-Khats’amiy memimpin dua kabilah Khats’am, yaitu Syahran dan Nahis dan beberapa kabilah lain yang mengikutinya. Mereka pun berperang pula melawan Abrahah, tetapi Nufail pun kalah dan tertawan pula. Ketika dia akan dibunuh dia pun berdatang sembah: “Tak usah saya tuan bunuh, bebaskanlah saya supaya saya menjadi petunjuk jalan tuan di negeri-negeri Arab ini.”
Dua kabilah ini, Syahran dan Nahis adalah turut perintah Tuan. Permintaannya itu pun dikabulkan oleh Abrahah dan tetaplah dia berjalan di samping Abrahah menjadi penunjuk jalan, sehingga sampailah tentara itu di Thaif.
Sampai di Thaif pemuka Tsaqif yang bernama Mas’ud bin Mu’attib bersama beberapa orang pemuka lain datang menyongsong kedatangan Abrahah, lalu mereka menyatakan ketundukan.
Dia berkata: “Wahai Raja! Kami adalah hambasahaya Tuan, kami tunduk takluk ikut perintah, tidak ada kami bermaksud melawan Tuan. Di negeri ini memang ada pula sebuah rumah yang kami puja dan muliakan (yang dimaksudnya ialah berhala yang bernama Al-Laata). Namun kami percaya bukanlah berhala kami ini yang Tuan maksud akan diruntuhkan. Yang Tuan maksud tentulah Ka’bah yang di Makkah. Kami bersedia memberikan penunjuk jalan buat Tuan akan menuju negeri Makkah itu.” Lalu mereka berikan seorang penunjuk jalan bernama Abu Raghaal! Lantaran itu Abrahah pun melanjutkan perjalanan dengan Abu Raghaal sebagai penunjuk jalan, sampai mereka dapat istirahat di satu tempat bernama Mughammis, suatu tempat sudah dekat ke Makkah dalam perjalanan dari Thaif.
Sesampai mereka berhenti di Mughammis itu tiba-tiba matilah Abu Raghaal si penunjuk jalan itu. Kubur Abu Raghaal itu ditandai oleh orang Arab, maka setiap yang lalu lintas di dekat situ melempari kubur itu.

Setelah Abrahah berhenti dengan tentaranya di Mughammis itu diutusnyalah seorang utusan dari bangsa Habsyi ke negeri Makkah. Nama utusan itu Aswad bin Maqfud. Dia pergi dengan naik kuda. Setelah dia sampai di wilayah Makkah dirampasinyalah harta-benda penduduk Tihamah dari Quraisy dan Arab yang lain. Termasuk 200 ekor unta kepunyaai Abdul Muthalib bin Hasyim, yang ketika itu menjadi orang yang dituakan dan disegani dalam kalangan Quraisy. Melihat perbuatan dan perampasan yang dilakukan oleh patroli Abrahah yang bernama Aswad bin Maqfud itu naik darahlah orang Quraisy, orang Kinanah dan Kabilah Huzail yang semuanya hidup dikeliling Makkah yang berpusat kepada Ka’bah, sehingga mereka pun telah menyatakan bersiap hendak berperang melawan Abrahah. Tetapi setelah mereka musyawaratkan dengan seksama, mereka pun mendapat kesimpulan bahwa tidaklah seimbang kekuatan mereka hendak melawan dengan besarnya angkatan perang musuh. Sebab itu perang tidaklah dijadikan.
Lalu Abrahah mengirim lagi perutusannya di bawah pimpinan Hunathah Al-Himyariy ke Makkah, hendak mencari hubungan dengan pemuka-pemuka Makkah dan ketua-ketuanya. Lalu utusan itu menyampaikan pesan Abrahah: “Kami datang ke mari bukanlah untuk memerangi kalian. Kedatangan kami hanyalah semata-mata hendak menghancurkan rumah ini. Kalau kalian tidak mencoba melawan kami, selamatlah nyawa dan darah kalian.” Dan Abrahah berpesan pula: “Kalian memang penduduk Makkah tidak hendak melawan kami, suruhlah salah seorang ketua Makkah datang menghadapnya ke Mughammis!”
Hunathah itu pun datanglah ke Makkah menyampaikan titah raja yang tegas itu. Setelah orang yang ditemuinya menyatakan bahwa pemimpin dan ketua mereka ialah Abdul Muthalib bin Hasyim. Lalu datanglah dia menuju Abdul Muthalib dan menyampaikan titah raja yang tegas itu.

Mendengar pesan raja itu berkatalah Abdul Muthalib:
“Demi Allah tidaklah kami bermaksud hendak berperang dengan dia. Kekuatan kami tidak cukup untuk memeranginya. Rumah ini adalah Rumah Allah, Bait Allah Al-Haram, dan Rumah Khalil Allah Ibrahim. Kalau Allah hendak mempertahankan rumah-Nya dari diruntuhkan, itulah urusan Allah sendiri. Kalau dibiarkannya rumah-Nya diruntuh orang, apalah akan daya kami. Kami tak kuat mempertahankannya.”
Berkata Hunathah: “Kalau begitu tuan sendiri harus datang menghadap baginda. Saya diperintahkan mengiringkan Tuan.”
“Baiklah”, kata Abdul Muthalib. Maka beliau pun pergilah bersama Hunathah menghadap Raja. Beliau diiringkan oleh beberapa orang puteranya sehingga sampailah mereka ke tempat perhentian laskar itu. Lalu dinyatakannya keadaan Dzu Nafar yang tertawan itu, sebab dia adalah sahabat lamanya, sehingga dia pun diizinkan menemuinya dan masuk ke dalam tempat tahanannya.
Dia bertanya kepada Dzu Nafar: “Hai Dzu Nafar! Adakah pendapat yang dapat engkau berikan kepadaku tentang kemusykilan yang aku hadapi ini?”
Dzu Nafar menjawab: “Tidak ada pendapat yang dapat diberikan oleh seorang yang dalam tawanan raja, yang menunggu akan dibunuh saja, entah pagi entah petang. Tak ada nasihat yang dapat saya berikan. Cuma ada satu! Yaitu pawang gajah selalu menjaga gajah raja itu, Unais namanya. Dia adalah sahabatku. Saya akan mengirim berita kepadanya tentang halmu dan saya akan memesan bahwa engkau sahabatku supaya dia pun mengerti bahwa engkau ini orang penting. Moga-moga dengan perantaraannya engkau dapat menghadap raja. Supaya engkau dapat menumpahkan perasaanmu di hadapannya, dan supaya Unais pun dapat memujikan engkau di hadapan baginda. Moga-moga dia sanggup.”
“Baiklah”, kata Abdul Muthalib.
Lalu Dzu Nafar mengirim orang kepada Unais pengawal gajah raja. Kepada Unais itu Dzu Nafar memesankan siapa Adbul Muthalib. Bahwa dia adalah ketua orang Quraisy, yang empunya sumur Zamzam yang terkenal itu, yang memberi makan orang yang terlantar di tanah rendah dan memberi makan binatang buas di puncak-puncak bukit. Untanya 200 ekor dirampas hamba-hamba raja, dia mohon izin menghadap baginda, dan engkau usahakanlah supaya pertemuan itu berhasil.
“Saya sanggupi”, kata Unais. Maka Unais pun datanglah menghadap raja mempersembahkan darihal Abdul Muthali itu: “Daulat Tuanku, beliau adalah Ketua Quraisy.”
Dia telah berdiri di hadapan pintu Tuanku, ingin menghadap. Dialah yang menguasai Zamzam di Makkah. Dialah yang memberi makanan manusia di tanah rendah dan memberi makanan binatang buas di puncak gunung-gunung. Beri izinlah dia masuk, Tuanku. Biarlah dia menyampaikan apa yang terasa di hatinya.”
“Suruhlah dia masuk”, titah Raja.
Abdul Muthalib adalah seorang yang rupawan, berwajah menarik dan berwibawa, besar dan jombang. Baru saja dia masuk, ada sesuatu yang memaksa Abrahah berdiri menghormatinya dan menjemputnya ke pintuk khemah. Abrahah merasa tidaklah layak orang ini akan duduk di bawah dari kursinya. Sebab itu baginda sendirilah yang turun dari kursi dan sama duduk di atas hamparan itu berdekat dengan Abdul Muthalib. Kemudian itu bertitahlah baginda kepada penterjemah: “Suruh katakanlah apa hajatnya!”
Abdul Muthalib menjawab dengan perantaraan penterjemah: “Maksud kedatanganku ialah memohonkan kepada raja agar unta kepunyaanku, 200 ekor banyaknya, yang dirampas oleh hambasahaya baginda, dipulangkan kepadaku.”
Raja menjawab dengan perantaraan penterjemah: “Katakan kepadanya: Mulai dia masuk aku terpesona melihat sikap dan rupanya, yang menunjukkan dia seorang besar dalam kaumnya. Tetapi setelah kini dia mengemukakan soal untanya 200 ekor yang dirampas oleh orang-orangku, dan dia tidak membicarakan sama-sekali, tidak ada reaksinya sama-sekali tentang rumah agamanya dan rumah agama nenek-moyangnya yang aku datang sengaja hendak meruntuhkannya, menjadi sangat kecil dia dalam pandanganku.”
Abdul Muthalib menjawab: “Saya datang ke mari mengurus unta itu, karena yang empunya unta itu ialah aku sendiri. Adapun soal rumah itu, memang sengaja tidak saya bicarakan. Sebab rumah itu ada pula yang empunya, yaitu Allah. Itu adalah urusan Allah.”
Dengan sombong Abrahah menjawab: “Allah itu sendiri tidak akan dapat menghambat maksudku!”
Abdul Muthalib menjawab: “Itu terserah Tuan, aku datang ke mari hanya mengurus untaku.”
Unta yang 200 ekor itu pun disuruh dikembalikan oleh Abrahah. Abdul Muthalib pun segeralah kembali ke Makkah, memberitahukan kepada penduduk Makkah pertemuannya dengan Abrahah. Lalu dia memberi nasihat supaya seluruh penduduk Makkah segera meninggalkan Makkah, mengelakkan diri ke puncak-puncak bukit keliling Makkah atau ke lurah-lurah, agar jangan sampai terinjak terlindis oleh tentara yang akan datang mengamuk.
Setelah itu, dengan diiringkan oleh beberapa pemuka Quraisy,
Abdul Muthalib pergi ke pintu Ka’bah dipegangnya teguh-teguh gelang pada pintunya lalu mereka berdoa bersama-sama menyeru Allah, memohon pertolongan, dan agar Allah memberikan pembalasannya kepada Abrahah dan tentaranya.

Sambil memegang gelang pintu Ka’bah itu Abdul Muthalib berdo'a:
"Ya Tuhanku! Tidak ada yang aku harap selain Engkau! Ya Tuhanku! Tahanlah mereka dengan benteng Engkau! Sesungguhnya siapa yang memusuhi rumah ini adalah musuh Engkau. Mereka tidak akan dapat menaklukkan kekuatan Engkau".
Setelah selesai bermunajat kepada Tuhan dengan memegang gelang pintu Ka’bah itu, Abdul Muthalib bersama orang-orang yang mengiringkannya pun mengundurkan diri, lalu pergi ke lereng-lereng bukit, dan di sanalah mereka berkumpul menunggu apakah yang akan diperbuat Abrahah terhadap negeri Makkah bilamana dia masuk kelak.
Setelah pagi besoknya bersiaplah Abrahah hendak memasuki Makkah dan dipersiapkanlah gajahnya. Gajah itu diberinya nama Mahmud. Dan Abrahah pun telah bersiap-siap hendak pergi meruntuhkan Ka’bah, dan kalau sudah selesai pekerjaannya itu kelak dia bermaksud hendak segera pulang ke Yaman.
Setelah dihadapkannya gajahnya itu menuju Makkah, mendekatlah orang tawanan yang dijadikan penunjuk jalan itu, dari Kabilah Khats’am yang bernama Nufail bin Habib itu. Dia dekati gajah tersebut, lalu dipegangnya telinga gajah itu dengan lemah-lembutnya dan dia berbisik: “Kalau engkau hendak dihalau berjalan hendaklah engkau tengkurup saja, hai Mahmud! Lebih cerdik bila engkau pulang saja ke tempat engkau semula di negeri Yaman. Sebab engkau sekarang hendak dikerahkan ke Baladillah Al-Haram (Tanah Allah yang suci lagi bertuah).”
Selesai bisikannya itu dilepaskannyalah telinga gajah itu. Dan sejak mendengar bisikan itu gajah tersebut terus tengkurup, tidak mau berdiri. Nufail bin Habib pun pergilah berjalan cepat-cepat meninggalkan tempat itu, menuju sebuah bukit.
Maka datanglah masa akan berangkat. Gajah disuruh berdiri tidak mau berdiri. Dipukul kepalanya dengan tongkat penghalau gajah yang agak runcing ujungnya, supaya dia segera berdiri. Namun dia tetap duduk tak mau bergerak. Diambil pula tongkat lain, ditonjolkan ke dalam mulutnya supaya dia berdiri, namun dia tidak juga mau berdiri. Lalu ditarik kendalinya dihadapkan ke negeri Yaman; dia pun segera berdiri, bahkan mulai berjalan kencang. Lalu dihadapkan pula ke Syam. Dengan gembira dia pun berjalan cepat menuju Syam. Lalu dihadapkan pula ke Timur, dia pun berjalan kencang. Kemudian dihadapkan dia ke Makkah, dia pun duduk kembali, tidak mau bergerak.
Padahal Abrahah sudah siap, tentaranya pun sudah siap.
Dalam keadaan yang demikian itu, demikian uraian Ibnu Hisyam dalam Siirahnya nampaklah di udara beribu-ribu ekor burung terbang menuju mereka. Datangnya dari jurusan laut. Burung itu membawa tiga butir batu; sebutir di mulutnya dan dua butir digenggamnya dengan kedua belah kakinya. Dengan serentak burung-burung itu menjatuhkan batu yang di bawanya itu ke atas diri tentara-tentara yang banyak itu. Mana yang kena terpekik kesakitan karena saking panasnya. Berpekikan dan berlarianlah mereka, tumpang siur tidak tentu arah, karena takut akan ditimpa batu kecil-kecil itu yang sangat panas membakar itu. Lebih banyak kena daripada yang tidak kena.
Semua menjadi kacau-balau dan ketakutan. Mana yang kena terkaparlah jatuh, dan yang tidak sampai kena hendak segera lari kembali ke Yaman. Mereka cari Nufail bin Habib untuk menunjuki jalan menuju Yaman, namun dia tidak mau lagi, malahan dia bersyair:
“Kemana akan lari, Allahlah yang mengejar, Asyram (Abrahah) yang kalah, bukan dia yang menang.”
Kucar-kacirlah mereka pulang. Satu demi satu mana yang kena lontaran batu itu jatuh. Dan yang agak tegap badannya masih melanjutkan pelarian menuju negerinya, namun di tengah jalan mereka berjatuhan juga. Adapun Abrahah sendiri yang tidak terlepas dari lontaran batu itu masih sempat naik gajahnya menuju Yaman, namun di tengah jalan penyakitnya bertambah membahayakan. Terkelupas kulitnya, gugur dagingnya, sehingga sesampainya di negeri Yaman boleh dikatakan sudah seperti anak ayam menciap-ciap. Lalu mati dalam kehancuran.
Maka terkenallah tahun itu dengan nama “Tahun Gajah”. Menurut keterangan Nabi SAW sendiri dalam sebuah Hadis yang shahih, beliau dilahirkan adalah dalam tahun gajah itu. Demikianlah disebutkan oleh Al-Mawardi di dalam tafsirnya. Dan tersebut pula di dalam kitab I’lamun Nubuwwah, Nabi SAW dilahirkan 12 Rabiul Awwal, 50 hari saja sesudah kejadian bersejarah kehancuran tentara bergajah itu.
Setelah Nabi kita SAW berusia 40 tahun dan diangkat Allah menjadi Rasul SAW masih didapati dua orang peminta-minta di Makkah, keduanya buta matanya. Orang itu adalah sisa dari pengasuh-pengasuh gajah yang menyerang Makkah itu.
“Bukankah telah Dia jadikan daya upaya mereka itu pada sia-sia?” (ayat 2).

Usaha yang begitu sombong dan besar, jawaban Abrahah kepada Abdul Muthalib, bahwa Allah sendiri tidak akan sanggup bertahan kalau dia datang menyerang. Segala maksudnya hendak menghancurkan itu sia-sia belaka, dan gagal belaka.
Tersebut dalam riwayat bahwa Abdul Muthalib yang tengah meninjau dari atas bukit-bukit Makkah apa yang akan dilakukan oleh tentara bergajah itu melihat burung berduyun-duyun menuju tentara yang hendak menyerbu Makkah itu. Kemudian hening tidak ada gerak apa-apa.

Lalu diperintahnya anaknya yang paling bungsu, Abdullah (ayah Nabi kita Muhammad SAW) pergi melihat-lihat apa yang telah kejadian, ada apa dengan burung-burung itu dan ke mana perginya. Maka dilakukannyalah perintah ayahnya dan dia pergi melihat-lihat dengan mengendarai kudanya. Tidak beberapa lamanya dia pun kembali dengan memacu kencang kudanya dan menyingsingkan kainnya. Setelah dekat, dengan tidak sabar orang-orang bertanya: “Ada apa, Abdullah?”
Abdullah menjawab: “Hancur-lebur semua!” Lalu diceriterakannya apa yang dilihatnya, “Bangkai bergelimpangan dan ada yang masih menarik-narik nafas akan mati dan sisanya telah lari menuju negerinya.”
Maka berangkatlah Abdul Muthalib dengan pemuka-pemuka Quraisy itu menuju tempat tersebut, tidak berapa jauh dari dalam kota Makkah. Mereka dapati apa yang telah diceriterakan Abdullah bin Abdul Muthalib itu. Bahkan 200 ekor unta Abdul Muthalib dan harta-benda yang lain, dan harta-benda yang ditinggalkan, kucar-kacir oleh tentara yang hancur itu. Baik kuda-kuda kendaraan, ataupun pakaian-pakaian perang yang mahal-mahal, alat senjata peperangan, pedangnya, perisainya dan tombaknya dan emas perak banyak sekali. Maka sepakatlah kepala-kepala Quraisy itu memberikan kelebihan pembahagian yang banyak untuk Abdul Muthalib, sebab dia dipandang sebagai pemimpin yang bijaksana. Dengan keahliannya dapat menghadapi musuh yang begitu besar dan begitu sombong.
Sebagai kita katakan tadi, 50 hari sesudah kejadian itu, Nabi Muhammad SAW pun lahirlah ke dunia. Tetapi ayahnya dalam perjalanan ke Yatsrib, kampung dari keluarga ayahnya. Di sana dia meninggal sebelum puteranya lahir. Berkata Ibnu Ishaq: “Setelah penyerangan orang Habsyi terhadap Makkah itu digagalkan dan dihancurkan oleh Allah sendiri, bertambah penghargaan dan penghormatan bangsa Arab kepada Quraisy. Sehingga mereka katakan: ‘Orang Quraisy itu ialah Keluarga Allah. Allah berperang untuk mereka.”
“Dan Dia telah mengirimkan ke atas mereka burung berduyun-duyun.” (ayat 3).

Burung-burung itu berduyun datang dari laut. Ahli-ahli tafsir bicara macam-macam tentang keadaan burung itu. Namun apa jenis burung tidak penting kita perkajikan. Sembarang burung pun dapat dipergunakan Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya. Sedangkan tikus bisa merusakkan sebuah negeri dengan menyuruh tikus itu memakan padi yang sedang mulai masak di sawah. Sedangkan belalang berduyun-duyun beratus ribu dapat membuat satu negeri jadi lapar, apatah lagi burung berduyun-duyun (ababil).
“Yang melempari mereka dengan batu siksaan?” (ayat 4). 

Batu yang mengandung azab, batu yang mengandung penyakit. Ada tafsir mengatakan bahwa batu itu telah direndang terlebih dahulu dengan api neraka. Syaikh Muhammad Abduh mencoba mentakwilkan bahwa batu itu membawa bibit penyakit cacar. Menurut keterangan Ikrimah sejak waktu itulah terdapat penyakit cacar di Tanah Arab. Ibnu Abbas mengatakan juga bahwa sejak waktu itu adanya penyakit cacar di Tanah Arab.
Dapat saja kita menerima penafsiran ini jika kita ingat bahwa membawa burung atau binatang dari satu daerah ke daerah yang lain, walaupun satu ekor, hendaklah terlebih dahulu diperiksakan kepada doktor, kalau-kalau burung itu membawa hama penyakit yang dapat menular. Demikian juga dengan tumbuh-tumbuhan. Demikian seekor burung, bagaimana kalau beribu burung?

“Lalu Dia jadikan mereka seperti daun kayu yang dimakan ulat.” (ayat 5). 

Laksana daun kayu dimakan ulat, memang adalah satu perumpamaan yang tepat buat orang yang diserang penyakit cacar (ketumbuhan), seluruh badan akan ditumbuhi oleh bisul yang panas, malahan sampai ada yang tumbuh dalam mata. Telapak kaki yang begitu tebal pun tidak terlepas, dan muka pun akan coreng-moreng dari bekasnya. 
Sebagai yang telah penulis alami (1923).

Al-Qurthubi menulis dalam tafsirnya: “Hikayat tentara bergajah ini adalah satu mu’jizat lagi dari Nabi kita, walaupun beliau waktu itu belum lahir.” Dan tidak ada orang yang akan dapat melupakan bahwa nenek-kandungnya mengambil peranan penting pada kejadian ini.


Dari kisah diatas tergambar jelaslah bahwa Abdul Muthalib menganut ajaran yang hanif sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Ibrahim. Begitu pula dengan Abdullah yang merupakan putra kesayangan dari Abdul Muthalib sudah barang tentu mengikut ajaran yang dianut oleh Ayahandanya yang merupakan pembesar Quraisy yang termasyur keseluruh penjuru. Apatah lagi Siti Aminah yang merupakan wanita shalihah dan istri dari Abdullah bin Abdul Muthalib sudah barang tentu mengikut ajaran yang dianut suaminya.

ILMU ALQUR'AN DAN HADITS: BANTAHAN BERDASARKAN ALQURAN TENTANG ISA DILANGIT

ILMU ALQUR'AN DAN HADITS: BANTAHAN BERDASARKAN ALQURAN TENTANG ISA DILANGIT: JAWABAN TENTANG NABI ISA AS Sebelum saya menjawab pembahasan judul diatas,penting untuk dipahami bahwasanya yang menghalangi kita untuk...

BANTAHAN BERDASARKAN ALQURAN TENTANG ISA DILANGIT

JAWABAN
TENTANG NABI ISA AS
Sebelum saya menjawab pembahasan judul diatas,penting untuk dipahami bahwasanya yang menghalangi kita untuk menerima pemahaman yang akan saya jelaskan ini adalah,karena kita telah didoktrin oleh yahudi dan antek2nya dengan mengatakan bahwa nabi ISA a.s masih hidup semenjak dahulu hingga sekarang hal ini dijelaskan ALLAH dalam alquran surat
AL HADID :16
(Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian BERLALULAH MASA YANG PANJANG  atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.)
Hal ini tidaklah terlepas dari kegagalan kaum YAHUDI tentang perkataan mereka yang mengatakan telah membunuh dan menyalib ISA Rasul ALLAH.Lalu dibantah oleh ALLAH dalam firmanNYa (ANNISAA :159)Demikianlah ALLAH membersihkan para rasulnya dari tuduhan2 orang2 kafir.Karena dibongkarnya oleh ALLAH atas semua kebohongan yang mereka lakukan.Maka mereka sebarkanlah pemahaman2 yg bertentangan dengan alquran,dengan memutar baklikkan fakta untuk menciptakan keraguaan dan perselisihan ditengah2 umat ISLAM.Sebab ciri2 khas dari sifat YAHUDI adalah membuat KEBOHONGAN dan KERAGU2 AN.
Sebenarnya sangat banyak ayat2 yang dapat dijadikan dalil sebagai buktibahwa nabi ISA a.s telah wafat dan bantahan terhadap pendapat yang mengatakan bahwa nabi ISA a.s masih hidup di langit.

Diantaranya adalah perkataan ALLAH sendiri kepada nabi ISA a.s dalam firmanNya bahwa ALLAH telah menyampaikan ajal anabi ISA .a.s,
AL IMRAN :55
(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya".

Lalu perkataan nabi ISA a.s sendiri kepada ALLAH yang diabadikan ALLAH dalam alquran,
AL-MAIDAH :117
Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.

Masih banyak ayat2 yang dapat dijadikan 10 dalil diantaranya,
 AL-A’RAAF 25,
AL- A’RAAF 24,
THAAHAA 55,
 AL-FURQON 20,
AL-ANBIYYAA 8,
AL-HAJJ 5,
AN-NAHL 70,
AL-IMRAN 143,
AN-NAHL 20-21,
AR-RUM,
DLL.
Salah satu HADITS diantara banyak HADITS
“Diriwayatkan oleh Ibn Abbas bahwa Rasulullah Bersabda dalam suatu khotbahnya: Wahai saudara-ssaudara sekalian! Kalian akan dikumpulkan oleh Tuhanmu (pada hari kiamat)…. Dan beberapa orang dari umatku akan diambil dan dilemparkan ke neraka. Aku akan berkata ‘Oh Tuhan, tapi mereka adalah dari umatku’ Akan dijawab:’ Engkau tak tahu apa yang mereka lakukan setelah kepergianmu”. Lalu aku akan berkata sebagaimana perkataan hamba Allah yang tulus (yakni Nabi Isa a.s. ): “Aku akan menjadi saksi atas mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka, tetapi setelah Engkau mematikan aku (tawaffaitani). Engkaulah yang mengawasi mereka“…..
DLL.

Itulah alasan kenapa di awal postingan sebelumnya saya memulai dengan hadits tentanng larangan meniru ataupun menyerupai apalagi mengimanani keyakinan suatu kaum atau golongan.Aagar kita tidak menjadi sama dengan kaum tersebut.
WASSALAM
KALAU PAHAM SILAHKAN DI SHARE
KALAU TIDAK CUKUP DI ABAIKAN SAJA.

Sunday, 6 March 2016

MAKNA KUSYU'



KHUSYU'


Apa yang dimaksud dgn khusyu'???
Apakah ketika dia sholat ngga ingat apa2?
kalau demikian orang gila juga nggak ingat apa2,
nenek pikun apalagi juga ngga ingat apa2
Ataukah hanya ingat wajah ALLAH ??
Sementara zat ALLAH tak satu pun manusia yg pernah melihatnya.

Tanda bekas sujud terlihat bukan pada kening atau dahi,akan tetapi terlihat pada wajahnya,firman ALLAH,:

Firman Allah ta’ala yang artinya “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud” (QS Al Fath [48]:29).

Wajah Yg dimaksud ALLAH dalam ayat tersebut adalah bahasa sastra tingkat tinggi yg bermakna tingkah laku,

Sebagai contoh;
jika seseorang merasa malu maka dia akan menyembunyikan wajahnya,atau ucapan yang sering kita dengar jika seseorang melakukan kesalahan dia akan mengatakan;

KAMAA KA DI ANDOK AN MUKO WAK LAI/DIMANA MUKA AKAN DITAROH??.

Dalam ayat yg lain ALLAH berfirman,;

﴾ Al 'Ankabut:45 ﴿
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Begitupula dengan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh dariNya” (diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al-Kabir nomor 11025, 11/46)

Kesimpulan,;

KHUSYU' adalah beriman kepada ALLAH dengan mengenal sifat2Nya,lalu menjalankan perintah dan laranganNya sesuai dengan RUKUN yg telah ditetapkanNya,TUMA'NINAH dan ISTIQOMAH.

Jadi “tampak pada wajah mereka” atau “tampak pada diri mereka” akhlak yang baik.

firman ALLAH,;
…. maka celakalah orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya, dan orang-orang yang berbuat riya” (QS Al-Ma’un 107: 4-6)

“… dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai“(QS Al A’raaf 7: 205)

Barangsiapa yang sholatnya tidak khusyuk, lalai atau ibadah fasidah (ibadah yang rusak) , ibadah sholat yang tidak sesuai dengan apa yang disampaikan oleh lisannya Rasulullah shallallahu alaihiwasallam sehingga tidak tertanam pengawasan Allah dalam jiwanya atau qolbunya, maka ia telah bermaksiat dan berhak mendapatkan siksa Allah ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian, tetapi Allah melihat kepada hati kalian.” (HR Muslim)

Tidaklah mereka mencapai sholat yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa “Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin“, “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“. yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian apabila sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat dengan Tuhan”

Allah berfirman yang artinya,
“Sesungguhnya sholat itu memang berat kecuali bagi mereka yang khusyu’ yaitu mereka yang yakin akan berjumpa dengan Rob mereka, dan sesungguhnya mereka akan kembali kepadaNya”. (QS. Al-Baqarah 2 : 45).

Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut.

Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698)

Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699).

Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701).

Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah? Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702)

Ahmad ash Showi mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij” (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr)

Dari al Azroq bin Qois, Syarik bin Syihab berkata, “Aku berharap bisa bertemu dengan salah seorang shahabat Muhammad yang bisa menceritakan hadits tentang Khawarij kepadaku. Suatu hari aku berjumpa dengan Abu Barzah yang berada bersama satu rombongan para shahabat. Aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku hadits yang kau dengar dari Rasulullah tentang Khawarij!”. Beliau berkata, “Akan kuceritakan kepada kalian suatu hadits yang didengar sendiri oleh kedua telingaku dan dilihat oleh kedua mataku. Sejumlah uang dinar diserahkan kepada Rasulullah lalu beliau membaginya. Ada seorang yang plontos kepalanya dan ada hitam-hitam bekas sujud di antara kedua matanya. Dia mengenakan dua lembar kain berwarna putih. Dia mendatangi Nabi dari arah sebelah kanan dengan harapan agar Nabi memberikan dinar kepadanya namun beliau tidak memberinya. Dia lantas berkata, “Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil”. Mendengar ucapannya, Nabi marah besar. Beliau bersabda, “Demi Allah, setelah aku meninggal dunia kalian tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku”. Demikian beliau ulangi sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda,

يَخْرُجُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ رِجَالٌ كَانَ هَذَا مِنْهُمْ هَدْيُهُمْ هَكَذَا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ثُمَّ لاَ يَرْجِعُونَ فِيهِ سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ لاَ يَزَالُونَ يَخْرُجُونَ
“Akan keluar dari arah timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia adalah bagian dari mereka. Mereka membaca al Qur’an namun alQur’an tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama sebagaimana anak panah melesat dari binatang sasarannya setelah menembusnya kemudia mereka tidak akan kembali kepada agama. Cirri khas mereka adalah plontos kepala. Mereka akan selalul muncul” (HR Ahmad no 19798)

Ketika orang-orang Khawarij mengasingkan diri dan menjadi kekuatan oposisi terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, Ali selalu didatangi orang-orang yang memberinya saran: “Wahai Amirul Mu’minin, mereka melakukan gerakan melawan Anda.” Ali radhiyallahu anhu hanya menjawab: “Biarkan saja mereka. Aku tidak akan memerangi mereka, sebelum mereka memerangiku. Dan mereka pasti melakukannya.”

Sampai akhirnya pada suatu hari, Ibn Abbas mendatanginya sebelum waktu zhuhur dan berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, aku mohon shalat zhuhur agak diakhirkan, aku hendak mendatangi mereka (Khawarij) untuk berdialog dengan mereka.” Ali radhiyallahu anhu menjawab: “Aku khawatir mereka mengapa-apakanmu.” Ibn Abbas berkata: “Tidak perlu khawatir. Aku laki-laki yang baik budi pekertinya dan tidak pernah menyakiti orang.” Akhirnya Ali radhiyallahu anhu merestuinya. Lalu Ibn Abbas memakai pakaian yang paling bagus produk negeri Yaman.

Ibn Abbas berkata: “Aku menyisir rambutku dengan rapi dan mendatangi mereka pada waktu terik matahari. Setelah aku mendatangi mereka, aku tidak pernah melihat orang yang lebih bersungguh-sungguh dari pada mereka. Pada dahi mereka tampak sekali bekas sujud. Tangan mereka kasar seperti kaki onta. Dari wajah mereka, tampak sekali kalau mereka tidak tidur malam untuk beribadah. Lalu aku mengucapkan salam kepada mereka. Mereka menjawab: “Selamat datang Ibn Abbas. Apa keperluanmu?”

Aku menjawab: “Aku datang mewakili kaum Muhajirin dan Anshar serta menantu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Al-Qur’an turun di tengah-tengah mereka. Mereka lebih mengetahui maksud al-Qur’an dari pada kalian. Lalu sebagian mereka berkata, “Jangan berdebat dengan kaum Quraisy, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar”. (QS. 43 : 58). Kemudian ada dua atau tiga orang berkata: “Kita akan berdialog dengan Ibn Abbas.” Kemudian terjadi dialog antara Ibn Abbas dengan mereka. Setelah Ibn Abbas berhasil mematahkan argumentasi mereka, maka 2000 orang Khawarij kembali kepada barisan Sayidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Sementara yang lain tetap bersikeras dengan pendiriannya. 2000 orang tersebut kembali kepada kelompok kaum Muslimin, karena berhasil mengalahkan hawa nafsu mereka. Sementara yang lainnya, telah dikalahkan oleh hawa nafsunya, sehingga bertahan dalam kekeliruan.

Dari Anas berkata : Ada seorang lelaki pada zaman Rasulullah berperang bersama Rasulullah dan apabila kembali (dari peperangan) segera turun dari kenderaannya dan berjalan menuju masjid nabi melakukan shalat dalam waktu yang lama sehingga kami semua terpesona dengan shalatnya sebab kami merasa shalatnya tersebut melebihi shalat kami, dan dalam riwayat lain disebutkan kami para sahabat merasa ta’ajub dengan ibadahnya dan kesungguhannya dalam ibadah, maka kami ceritakan dan sebutkan namanya kepada Rasulullah, tetapi rasulullah tidak mengetahuinya, dan kami sifatkan dengan sifat-sifatnya, Rasulullah juga tidak mengetahuinya, dan tatkala kami sednag menceritakannya lelaki itu muncul dan kami berkata kepada Rasulullah: Inilah orangnya ya Rasulullah. Rasulullah bersabda : ”Sesungguhnya kamu menceritakan kepadaku seseorang yang diwajahnya ada tanduk syetan. Maka datanglah orang tadi berdiri di hadapan sahabat tanpa memberi salam. Kemudian Rasulullah bertanya kepada orang tersebut : ” Aku bertanya kepadamu, apakah engkau merasa bahwa tidak ada orang yang lebih baik daripadamu sewaktu engkau berada dalam suatu majlis. ” Orang itu menjawab: Benar”. Kemudian dia segera masuk ke dalam masjid dan melakukan shalat dan dalam riwayat kemudian dia menuju tepi masjid melakukan shalat, maka berkata Rasulullah: ”Siapakah yang akan dapat membunuh orang tersebut ? ”. Abu Bakar segera berdiri menuju kepada orang tersebut, dan tak lama kembali. Rasul bertanya : Sudahkah engkau bunuh orang tersebut? Abu Bakar menjawab : ”Saya tidak dapat membunuhnya sebab dia sedang bersujud ”. Rasul bertanya lagi : ”Siapakah yang akan membunuhnya lagi? ”. Umar bin Khattab berdiri menuju orang tersebut dan tak lama kembali lagi. Rasul berkata: ”Sudahkah engkau membunuhnya ? Umar menjawab: ”Bagaimana mungkin saya membunuhnya sedangkan dia sedang sujud”. Rasul berkata lagi ; Siapa yang dapat membunuhnya ?”. Ali segera berdiri menuju ke tempat orang tersebut, tetapi orang terebut sudah tidak ada ditempat shalatnya, dan dia kembali ke tempat nabi. Rasul bertanya: Sudahkah engkau membunuhnya ? Ali menjawab: ”Saya tidak menjumpainya di tempat shalat dan tidak tahu dimana dia berada. ” Rasulullah saw melanjutkan: ”Sesungungguhnya ini adalah tanduk pertama yang keluar dari umatku, seandainya engkau membunuhnya, maka tidaklah umatku akan berpecah. Sesungguhnya Bani Israel berpecah menjadi 71 kelompok, dan umat ini akan terpecah menjadi 72 kelompok, seluruhnya di dalam neraka kecuali satu kelompok ”. Sahabat bertanya : ” Wahai nabi Allah, kelompk manakah yang satu itu? Rasulullah menjawab : ”Al Jama’ah”. (Majma’ Az-Zawaid juz 6 hal. 242)

Tentulah tidak semua orang yang jidatnya hitam adalah khawarij

Khawarij adalah orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim An Najdi yakni orang-orang menampakkan kesholehan di hadapan orang banyak dalam bentuk tanda-tanda atau bekas ibadah sunnahnya (seperti jidat hitam) namun berakhlak buruk seperti

1. Suka mencela dan mengkafirkan kaum muslim
2. Merasa paling benar dalam beribadah.
3. Berburuk sangka kepada kaum muslim
4. Sangat keras kepada kaum muslim bahkan membunuh kaum muslim namun lemah lembut kepada kaum Yahudi.
5. Bersikap keras (tegas / berpendirian) terhadap orang-orang kafir
6. Berjihad di jalan Allah, bergembira dalam menjalankan kewajibanNya dan menjauhi laranganNya
7. Tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela

 “Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (QS Al Maidah [5]:44)

Dari Anas radhiyallahuanhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Tiga hal merupakan pokok iman ; menahan diri dari orang yang menyatakan Tiada Tuhan kecuali Allah. Tidak memvonis kafir akibat dosa dan tidak mengeluarkannya dari agama Islam akibat perbuatan dosa ; Jihad berlangsung terus semenjak Allah mengutusku sampai akhir ummatku memerangi Dajjal. Jihad tidak bisa dihapus oleh kelaliman orang yang lalim dan keadilan orang yang adil ; dan meyakini kebenaran takdir”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Dari kelompok orang ini, akan muncul nanti orang-orang yang pandai membaca Al Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya“. (HR Muslim 1762)

Sabda Rasululullah yang artinya “mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala” maksudnya mereka memahami Al Qur’an dan Hadits dan berkesimpulan kaum muslim lainnya telah musyrik (menyembah selain Allah) sehingga membunuhnya namun dengan pemahaman mereka tersebut mereka membiarkan para penyembah berhala yang sudah jelas kemusyrikannya.

Yang dimaksud dengan “membiarkan para penyembah berhala” adalah “membiarkan” kaum Yahudi

Dalam syarah Shahih Muslim, Jilid. 17, No.171 diriwayatkan Khalid bin Walīd ra bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang seperti Dzul Khuwaisarah at Tamimi an Najdi dengan pertanyaan

“Wahai Rasulullah, orang ini memiliki semua bekas dari ibadah-ibadah sunnahnya: matanya merah karena banyak menangis, wajahnya memiliki dua garis di atas pipinya bekas airmata yang selalu mengalir, kakinya bengkak karena lama berdiri sepanjang malam (tahajjud) dan janggut mereka pun lebat”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab : camkan makna ayat ini : qul in’kuntum tuhib’būnallāh fattabi’unī – Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Khalid bin Walid bertanya, “Bagaimana caranya ya Rasulullah ? ”
Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Jadilah orang yang ramah seperti aku, bersikaplah penuh kasih, cintai orang-orang miskin dan papa, bersikaplah lemah-lembut, penuh perhatian dan cintai saudara-saudaramu dan jadilah pelindung bagi mereka.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menegaskan bahwa ketaatan yang dilakukan oleh orang-orang seperti Dzul Khuwaisarah at Tamimi an Najdi tidaklah cukup jika tidak menimbulkan ke-sholeh-an seperti bersikap ramah, penuh kasih, mencintai orang-orang miskin dan papa, lemah lembut penuh perhatian dan mencintai saudara muslim dan menjadi pelindung bagi mereka.

Indikator atau ciri-ciri atau tanda-tanda orang yang mencintai Allah dan dicintai oleh Allah adalah


Bersikap lemah lembut terhadap sesama muslim

Firman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Ma’iadah [5]:54)

Mereka berkeyakinan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib telah berhukum dengan thagut, berhukum dengan selain hukum Allah. Semboyan kaum khawarij pada waktu itu adalah “La hukma illah lillah”, tidak ada hukum melainkan hanya dari Allah. Sayyidina Ali ra menanggapi semboyan tersebut berkata , “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan yang benar dengan tujuan yang salah).

WASSALAM.



Sunday, 14 February 2016

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN AKAL DAN DIMANAKAH LETAKNYA ???



Apakah itu AKAL? apakah sama dengan otak?,Tidak !
Kalau AKAL disamakan dengan OTAK ,maka setiap manusia ,baik yang pintar,yang bodoh,yang waras atau yang tidak waras semua pasti punya otak dan semuanya diletakkan dikepala.
Bahkan binatang melata sekalipun juga memiliki otak.
Fungsi otak adalah untuk berfikir,sehingga setiap yang memilikinya pasti bisa berfikir termasuk juga binatang yang melata.Namun yang membedakan adalah sebesar dan sekuat apa masing2 bisa berfikir tergantung informasi yang pernah masuk kedalam otak masing-masing.
Apakah sama dengan HATI?, Tidak !.
Karena  HATI dalam istilah kedokteran bernama hepar atau dalam bahasa inggrris disebut LIVER,
merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh, terletak dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma.

Lalu apakah itu ?

Didalam Kitab suci ALQURAN, diantaranya dalam surat :
ALBAQARAH ayat :269 dan,
AZ-ZUMAR ayat : 9
Terdapat ayat yang berbunyi :

الْأَلْبٰبِ أُو۟لُوا۟ يَتَذَكَّرُ إِنَّمَا

Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil (dari firman Allah) pelajaran .

Tetapi jika diterjemahkan berdasarkan kata demi kata maka akan berbunyi ;

الْأَلْبٰبِ أُو۟لُوا۟ يَتَذَكَّرُ إِنَّمَا

Sesungguhnya hanyalah yang berdzikir(mengambil pelajaran) orang2 yang berakal.
Kata yatadzakkaru diterjemahkan dengan mengambil pelajaran karena berasal dari dasar kata
dza-ka-ro yang dapat dimaknai sebagai Al-quran/petunjuk/mengingat,sehingga kalu ditujukan kepada allah maka menjadi DZIKRULLAH.
DZIKRULLAH artinya ingat kepada ALLAH yang dilakukan dengan empat cara yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya,
1.Membaca Alquran (annisaa :82)
2.Memikirkan Alquran (al-imran :191)
3.Memahami Alquran (al-a’raaf :179)
4.Mengamalkan isi Alquran
Karena kalau Alquran tidak dibaca,maka tidak akan difikirkan,kalau tidak difikirkan,tidak akan dipahami,kalau tidak pahami,lalu apa yang akan diamalkan ?.
Dalam Alquran surat :
Al Insaan:2 ﴿
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
Al Israa':36 ﴿
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan qolbu, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
Jadi pada hakekatnya ALLAH memberikan pendengaran dan mata untuk untuk membaca ayat2 ALLAH, lalu meneruskannya ke OTAK sebagai alat untuk berfikir sehingga meresap kedalam QOLBU maka didapatkanlah AKAL yang akan diterima oleh ROH.Semakin banyak AKAL yang diberikan dan diterima oleh ROH,maka ROH akan menjadi sehat dan kuat,sehingga mampu mengendalikan jasad untuk melakuan amalan baik yang akan diberikan balasan oleh ALLAH,selagi masih didunia maupun nanti di AKHIRAT.
Kesimpulan yang dapat diambil dari ayat2 diatas adalah :
1.AKAL adalah Keyakinan (iman) yang didapatkan dari pemahaman berdasarkan pemikran atas apa yang diperhatikan (didengar dan dibaca)tentang Alquran.
2.Sehebat apapun seseorang dalam berfikir,belumlah dapat dikatakan berAKAL kalau tidak melakukan 4 hal yang disebutkan diatas,hanya bisa dikatakan sebagai GENIUS .

AZ-ZUMAR ayat : 9
Sesungguhnya hanyalah yang berdzikir(mengambil pelajaran) orang2 yang berakal.

(AL-ANFAAL : 22)
Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.


Al-a’raf :179.
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Friday, 12 February 2016

APAKAH PERBEDAAN QOLBU DENGAN HATI ???

ANTARA QOLBU DAN HATI
Dalam kehidupan sehari-hari mungkin kita sering mendengarkan atau bahkan kita sendiri sering mengucapkan kalimat qolbu ataupun kalimat hati,namun jika seseorang menanyakan secara lebih terperinci tentang kedua hal tersebut,banyak diantara kita yang bingung untuk menjawabnya bahkan terkadang malah banyak yang tidak paham sama sekali tentang perbedaan antara qolbu dan hati tersebut.
Kalau kita pahami lebih dalam,ternyata antara qolbu dan hati memiliki pengertian yang sangat jauh berbeda,baik secara kata maupun secara makna.Namun secara zahir banyak diantara kita yang kurang memperhatikan perbedaan kedua kata tersebut sehingga seolah-olah menganggap hal tersebut sesuatu yang tidak terlalu penting untuk difikirkan apalagi untuk dipersoalkan.
Pada  setiap manusia terdapat dua unsur yang sangat pokok dan penting yaitu jasad dan roh,dimana jasad dilengkapi dengan Hati sedangkan Roh dilengkapi dengan Qolbu.Antara Jasad dan Roh kedua-duanya membutuhkan nutrisi agar bisa tetap sehat dan kuat.Pada jasad/tubuh manusia nutrisi yang baik disebut dengan vitamin,dimana vitamin bisa didapatkan melalui makanan. Sedangkan nutrisi untuk Roh adalah AKAL/ILMU,dimana AKAL/ILMU yang baik hanya bisa didapatkan dari ALQURAN,sebagaimana ALLAH mengatakan dalam firmanNya:

...Dan sesungguhnya hanyalah orang-orang yang mau  mengambil pelajaran yang berAKAL/ILMU.

Jika tubuh seseorang tidak diasupi dengan vitamin yang cukup,maka tubuh akan lemah dan akan mudah diserang oleh berbagai penyakit sehingga tidak dapat merasakan dengan sempurna akankenikmatan hidup didunia.Begitupun halnya sama dengan Roh,jika Roh sesorang tidak diasupi dengan AKAL/ILMU yang cukup,maka Roh tersebut akan lemah  dan akan sangat mudah dukuasai oleh berbagai nafsu sehingga tidak akan mendapatkan kenikmatan hidup di akhirat kelak.
Demikinlah bahasan singkat tentang perbedaan antara QOLBU dengan HATI,semoga bisa bermanfa’at,amiin.


AL-IMRAN AYAT 8.
(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan QOLBU kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)". 

Thursday, 11 February 2016

IMAM MASJIDIL HARAM YANG BERASAL DARI INDONESIA ???

PUTRA TERBAIK  DARI MINANG
Ahmad Khatib bin Abdul Lathif Al- Minangkabawi
Tokoh yang kerap dikenal sebagai Syaikh Ahmad Khatib al- Minangkabawi ini lahir di Kota Tuo- Balai Gurah, IV Angkek Candung, Agam, Sumatra Barat, pada hari senin, 6 dzulhijjah 1274 H (1860 M) dan wafat di Tuanku Nan Rancak.

 Ayahnya bernama Abdul Lathif yang berasal dari kota gadang.
 Abdullah, Kakek Syaikh Ahmad Khatib al- Minangkabawi atau buyut menurut riwayat lain, adalah seorang ulama kenamaan. Oleh masyarakat kota gadang, Abdullah ditunjuk sebagai imam dan khatib. Sejak itulah gelar Khatib Nagari melekat di belakang namanya dan berlanjut ke keturunan di kemudian hari.
Putra minang yang menjadi  imam besar masjidil haram dan orang yang pertama sebagai imam besar masjidil haram dari luar bangsa arab.
"kritis atas adat dan budaya minang kabau,terutama menolak adat minang tentang waris.
"tidak menginjak bumi minang sebelum adat dan budaya dirobah"

Gagasan Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi
Kegemarannya dalam mempelajari ilmu faraid memberikan perubahan besar terhadap adat minang. Dengan keilmuan dan keberaniannya yang tak diragukan, akhirnya beliau berhasil mengubah adat minang dalam membagi harta warisan yang sebelumnya bertentangan dengan islam yakni harta pusaka peninggaan keluarga diwariskan pada kemenakan perempuan dari garis kerabat perempuan. Sedangkan kemenakan laki-laki hanya menjadi pembantu dalam merawat dan memelihara harta pusaka tersebut. Dan berkat keberhasilan beliau, kini adat tersebut sudah sejalan dengan hukum islam. Bahwasannya harta warisan diberikan kepada anak kandung, dengan ketentuan anak laki-laki memperoleh dua kali lipat begian anak perempuan. Yang kemudian ditulis dalam kitab beliau yang berjudulad- da’ilmasmu’ fi raddi ala man yuriisul ikhwah wa auladil akhwat ma’a wujudil ushl wl furu’  dengan versi terjemahan al manhajul masyru’.
 Mengenai murid- murid Syaikh Ahmad Khatib al- Minangkabawi, Siradjuddin Abbas berkata bahwa sebagaimana dikatakan di atas bahwa hampir ulama Syafi’i yang kemudian mengembangkan ilmu agama di indonesia, seperti Syeikh Sulaiman al-Rasuli, Syeikh Muhdi Jamil Jaho, Syeikh Abbas Qadli, Syaikh Musthofa Purba Baru, Syaikh Hasan Ma’sum Medan Deli dan banyak lagi ulama- ulama Indonesia pada tahun-tahun bar XIV adalah murid dari Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (Thabaqatus Syafiiyah hal: 406). Ucapan senada juga diungkapkan oleh penulis ensiklopedi ulama nusantara di banyak tempat. Bahkan Dr. Kareel A. Steenbrink membuat satu pasal dalam beberapa aspek: guru untuk generasi pertama kaum muda.

Diantara beberapa murid beliau adalah,;

1.       Syaikh al-Karim bin Amrullah rahimahullah, ayah Buya Hamka. Seorang ulama kharismatik yang     memiliki pengaruh besar di ranah minang dan indonesia. Diantara karya tulisnya adalah al- Qaulush shalih yang membicarakan tentang nabi terakhir dan membantah paham adanya nabi baru setelah nabi Muhammad terutama pengikut Mirza Ghulam Ahmad Qadiyani.
2.       Muhammad Darwis alias KH. Ahmad Dahlan bin Abu Bakar bin Sulaiman rahimahullah- pendiri Jamiyyah Muhammadiyah
3.       Muhammad Hasyim Bin asy’ari Tebuireng Jombang rahimahullah- salah satu pendiri Jamiyyah Nahdlatul Ulama
4.       Ustadz Abdul Halim Majalengka rahimahullah- pendiri Jamiyyah Ianatul Mutaallimin yang bekerja sama dengan Jamiyyah Khairiyah dan al-Irsyad
5.       Syaikh Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad Afif al-Banjari rahimahullah- mufti kerajaan Indragiri
6.       Muhammad Thaib Umar, dsb.
Suri tauladan yang dianjarkan beliau kepada anaknya terutama tentang masalah TAUHID seperti yang dikisahkan anak beliau yakni ABDUL HAMID AL KHATIB adalah,;
“Ketika kecilku dulu, jika aku meminta sesuatu dari ayahku, beliau akan berkata,’Mintalah kepada Allah, pasti Dia akan memberimu (apa yang kamu minta).’ Aku pun balik bertanya, ‘Memangnya Allah di mana, yah?’ ‘Dia berada di langit sana,’ jawab ayahku,’Dia dapat melihatmu, sedangkan kamu tidak melihat Nya.
’ Tidak selang berapa lama, ayahku pun mendatangiku dengan membawa apa yang kuminta seraya berkata, ‘ini, Allah telah mengirim kepadaku apa yang tadi kamu minta .’
Dulu juga jika aku meminta sesuatu kepada Allah dan tidak aku dapatkan, maka aku pun segera mengadu kepada ayahku,
 ‘Sesungguhnya aku telah meminta ini dan itu kepada Allah, tapi kok Allah tidak memberiku, ayah?’
Ayah pun segera menjawab,
 ‘Ini tidak mungkin terjadi kecuali jika kamu sendiri yang bikin Allah murka. Ya mungkin kamu sudah berlaku sembrono dalam ibadahmu, atau kamu terlambat shalat, atau mungkin kamu sudah menggunjing seseorang?
Maka bertaubatlah dan minta ampunlah kepada Allah, pasti Dia akan memberikan semua permintaanmu.
’ Aku pun segera melakukan wasiat ayahku, maka semua keinginanku pun dapat terwujud.”

SATRIA BIN NAZARUDDIN WAHAB
Minggu, 11 Oktober 2015

HIKMAH DARI KISAH FIR'AUN

Siapakah fir'aun ???
Fir'aun adalah gelar atau julukan yang diberikan kepada penguasa atau raja yang juga sekaligus menjadi pemimpin dalam urusan agama.
Fir'aun yang disebutkan dalam alquran adalah yang menjadi raja pada zaman nabi isa yang diperkirakan pada masa Ramses II.
Dalam Alquran surat yunus ayat : 90 - 92. selengkapnya

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".

Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.

Hikmah yang dapat kita ambil dari tiga ayat tersebut adalah diantaranya ucapan fir'aun bahwasanya dia mengimani apa yang diimani oleh kaum bani israil yaitu Allah dan ia pun ingin masuk menjadi islam.Akan tetapi disebabkan karena kesombongannya Allah tidak menerima permohonan tersebut.
Kenapa Allah tidak menerima taubat fir'aun ???
Bukankah Allah maha pengampun dan maha penyayang ??
Pada kalimat terakhir dalam ayat tersebut Allah mengatakan bahwa sangat banyak manusia yang lengah dalam memetik hikmah dan pelajaran dari kisah tentang fir'aun tersebut.
Terbukti ketika masih hidup ,sebelum kematiannya fir'aun sempat minta ampun akan tetapi tidak terima.
Tetapi pelaku tahlilan berani memintakan ampun bagi orang yang sudah mati,bahkan merasa sangat yakin jikalau alquran yang dibacakannya sampai kepada yang sudah mati.Dari mana mereka bisa mengtahui bahwa bacaan alquran mereka sampai pada si mayit ?? Apakah mereka dapat bisikan atau diberitahukan oleh malaikat ???
Padahal didalam Alquran telah berulang-ulang ALLAH mengatakan bahwasanya seseorang hanya akan dibalas sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.

Tuesday, 26 January 2016

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN SOMBONG ???

Dari Abdullah Bin Mas’ud radhiayallahu’anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
وعن عبداللّه بن مسعودرضى اللّه عنه عن النّبىّ صلّى اللّه عليه وسلّم قال : لايدخل الجنّةمن كان فى قلبه مثقال ذرّةمن كبر ، فقال رجل : انّ الرّجل يحبّ ان يكون ثوبه حسناونعله حسنة ، قال : انّ اللّه جميل يحبّ الجمال . الكبر : بطرالحقّ وغمط النّاس (رواه مسلم)٠
Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang shahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Iman, Bab: Tahrimul Kibri wa Bayanuhu)
Dalam riwayat lain:
لاَ يَدْخُلُ النَّارَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيْمَانٍ وَلاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Tidak akan masuk neraka seseorang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari keimanan dan tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari kesombongan.” (HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Iman, Bab: Tahrimul Kibri wa Bayanuhu)
Nabi telah menjelaskan Al-kibru (kesombongan) itu adalah:
الْكِبْرُ بَطْرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. Adapun batharul haq artinya mengingkari kebenaran dan menolaknya. Sedang ghomthunaas artinya meremehkan mereka (manusia).
Maka orang yang sombong, selalu berambisi untuk meninggikan dirinya di hadapan Allah Ta’ala dengan cara menolak syariat dan ajaran agama. Padahal perkataan yang benar adalah dari Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam dan dia meninggikan dirinya di hadapan manusia sehingga mengolok-olok, meremehkan serta menjelek-jelekan mereka.
Sesungguhnya sombong adalah meremehkan sang Khaliq (Allah ‘Azza wa Jalla) dan sekaligus meremehkan makhluk (manusia), kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari sifat tersebut.
Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman:
وَلَقَدْ فَتَنَّا قَبْلَهُمْ قَوْمَ فِرْعَوْنَ وَجَاءَهُمْ رَسُولٌ كَرِيمٌ أَنْ أَدُّوا إِلَيَّ عِبَادَ اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ وَأَنْ لا تَعْلُوا عَلَى اللَّهِ إِنِّي آتِيكُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ
Sesungguhnya sebelum mereka telah Kami uji kaum Fir’aun dan telah datang kepada mereka seorang Rasul yang mulia, (dengan berkata): “Serahkanlah kepadaku hamba-hamba Allah (Bani Israil yang kamu perbudak). Sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) yang dipercaya kepadamu, dan janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata.” [Ad-Dhukhan 17-19]
Ibnu Katsir menjelaskan tentang tafsir firman Allah :
وَأَنْ لا تَعْلُوا عَلَى اللَّهِ
dan janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah.” Yakni: Janganlah kalian sombong dari mengikuti ayat-ayat-Nya dan melaksanakan hujah-hujah-Nya serta mengimani bukti-bukti-Nya. Sebagaimana firman-Nya ‘Azza wa Jalla :
وَكَذَلِكَ حَقَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّهُمْ أَصْحَابُ النَّارِ

Dan demikianlah telah pasti berlaku ketetapan azab Rabb-mu terhadap orang-orang kafir, karena sesungguhnya mereka adalah penghuni neraka.”[Ghafir:6]

Saturday, 23 January 2016

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN AKAL

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN AKAL DAN DIMANAKAH LETAKNYA ???

Apakah itu AKAL? apakah sama dengan otak?,Tidak !
Kalau AKAL disamakan dengan OTAK ,maka setiap manusia ,baik yang pintar,yang bodoh,yang waras atau yang tidak waras semua pasti punya otak dan semuanya diletakkan dikepala.
Bahkan binatang melata sekalipun juga memiliki otak.
Fungsi otak adalah untuk berfikir,sehingga setiap yang memilikinya pasti bisa berfikir termasuk juga binatang yang melata.Namun yang membedakan adalah sebesar dan sekuat apa masing2 bisa berfikir tergantung informasi yang pernah masuk kedalam otak masing-masing.
Apakah sama dengan HATI?, Tidak !.
Karena HATI dalam istilah kedokteran bernama hepar atau dalam bahasa inggrris disebut LIVER,
merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh, terletak dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma.

Lalu apakah itu AKAL ?

Didalam Kitab suci ALQURAN, diantaranya dalam surat :
ALBAQARAH ayat :269 dan,
AZ-ZUMAR ayat : 9
Terdapat ayat yang berbunyi :

الْأَلْبٰبِ أُو۟لُوا۟ يَتَذَكَّرُ إِنَّمَا

Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil (dari firman Allah) pelajaran .

Tetapi jika diterjemahkan berdasarkan kata demi kata maka akan berbunyi ;

الْأَلْبٰبِ أُو۟لُوا۟ يَتَذَكَّرُ إِنَّمَا

Sesungguhnya hanyalah yang berdzikir(mengambil pelajaran) orang2 yang berakal.
Kata yatadzakkaru diterjemahkan dengan mengambil pelajaran karena berasal dari dasar kata
dza-ka-ro yang dapat dimaknai sebagai Al-quran/petunjuk/mengingat,sehingga kalu ditujukan kepada allah maka menjadi DZIKRULLAH.
DZIKRULLAH artinya ingat kepada ALLAH yang dilakukan dengan empat cara yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya,
1.Membaca Alquran (annisaa :82)
2.Memikirkan Alquran (al-imran :191)
3.Memahami Alquran (al-a’raaf :179)
4.Mengamalkan isi Alquran
Karena kalau Alquran tidak dibaca,maka tidak akan difikirkan,kalau tidak difikirkan,tidak akan dipahami,kalau tidak pahami,lalu apa yang akan diamalkan ?.
Dalam Alquran surat :
﴾ Al Insaan:2 ﴿
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
﴾ Al Israa':36 ﴿
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan qolbu, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
Jadi pada hakekatnya ALLAH memberikan pendengaran dan mata untuk untuk membaca ayat2 ALLAH, lalu meneruskannya ke OTAK sebagai alat untuk berfikir sehingga meresap kedalam QOLBU maka didapatkanlah AKAL yang akan diterima oleh ROH.Semakin banyak AKAL yang diberikan dan diterima oleh ROH,maka ROH akan menjadi sehat dan kuat,sehingga mampu mengendalikan jasad untuk melakuan amalan baik yang akan diberikan balasan oleh ALLAH,selagi masih didunia maupun nanti di AKHIRAT.
Kesimpulan yang dapat diambil dari ayat2 diatas adalah :
1.AKAL adalah Keyakinan (iman) yang didapatkan dari pemahaman berdasarkan pemikran atas apa yang diperhatikan (didengar dan dibaca)tentang Alquran.
2.Sehebat apapun seseorang dalam berfikir,belumlah dapat dikatakan berAKAL kalau tidak melakukan 4 hal yang disebutkan diatas,hanya bisa dikatakan sebagai GENIUS .

AZ-ZUMAR ayat : 9
Sesungguhnya hanyalah yang berdzikir(mengambil pelajaran) orang2 yang berakal.

(AL-ANFAAL : 22)
Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.


Al-a’raf :179.
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

PALING BANYAK DILIHAT