Antara batu akik dan batu Hajjar Aswat.
Al-Imaam Al-Bukhaariy rahimahullah berkata:
Al-Imaam Al-Bukhaariy rahimahullah berkata:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ جَاءَ إِلَى الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ فَقَبَّلَهُ فَقَالَ إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ وَلَوْ لَا أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin katsiir : Telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan, dari Al-A’masy, dari Ibraahiim, dari ‘Aabis bin Rabii’ah, dari ‘Umar radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya ia pernah mendatangi hajar aswad lalu menciumnya dan berkata : “Sesungguhnya aku tahu bahwasannya engkau hanyalah sebuah batu yang tidak memberikan kemudlaratan dan tidak pula manfaat. Seandainya aku tidak melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tidak sudi menciummu” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 1597].
Riwayat ini memberikan beberapa faedah, diantaranya:
Riwayat ini memberikan beberapa faedah, diantaranya:
1. Hajar Aswad – sebagaimana batu yang lainnya – tidak memberikan mudlarat maupun manfaat.
2. ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu tidak bertabarruk dengan dzat Hajar Aswad karena dianggap mengandung barakah, karena kerberkahan benda-benda tertentu harus berdasarkan dalil, bukan berdasarkan akal dan pendapat semata.
3. ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu hanyalah mencium Hajar Aswad karena melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukannya.
Oleh karenanya, tabarruk ‘Umar radliyallaahu ‘anhu bukan pada dzat bendanya (yaitu Hajar Aswad), akan tetapi bertabarruk dengan sikap ittibaa’ dan ibadah/amal ketaatan sesuai dengan yang diajarkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tabarruk dengan amal shaalih adalah dianjurkan oleh syari’at.
Ath-Thabariy rahimahullah berkata:
إِنَّمَا قَالَ ذَلِكَ عُمَر لِأَنَّ النَّاس كَانُوا حَدِيثِي عَهْد بِعِبَادَةِ الْأَصْنَام فَخَشِيَ عُمَر أَنْ يَظُنّ الْجُهَّال أَنَّ اِسْتِلَام الْحَجَر مِنْ بَاب تَعْظِيم بَعْض الْأَحْجَار كَمَا كَانَتْ الْعَرَب تَفْعَل فِي الْجَاهِلِيَّة فَأَرَادَ عُمَر أَنْ يُعَلِّم النَّاس أَنَّ اِسْتِلَامه اِتِّبَاع لِفِعْلِ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا لِأَنَّ الْحَجَر يَنْفَع وَيَضُرّ بِذَاتِهِ كَمَا كَانَتْ الْجَاهِلِيَّة تَعْتَقِدهُ فِي الْأَوْثَان
“’Umar hanyalah mengatakannya karena orang-orang belum lama terlepas dari penyembahan terhadap berhala, sehingga ia khawatir orang-orang bodoh akan menyangka mencium batu merupakan pengagungan terhadap sebagian batu-batu sebagaimana orang-orang ‘Arab dulu melakukannya di jaman Jaahiliyyah. Maka ‘Umar hendak memberitahukan kepada orang-orang bahwa ia mencium Hajar Aswad karena ittibaa’ terhadap perbuatan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Bukan dikarenakan batu tersebut dapat memberikan manfaat dan mudlarat sebagaimana Jaahiliyyah dulu yang meyakininya pada berhala-berhala’ [Fathul-Baariy, 3/462-463].
Al-Baihaqiy rahimahullah berkata:
فَأَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ قَدْ عَبَدَ الْحَجَرَ فَحِينَ أَهْوَى إِلَى الرُّكْنِ كَأَنَّهُ هَابَ مَا كَانَ عَلَيْهِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَتَبَرَّأَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سِوَى اللَّهِ وَأَخْبَرَهُ بِأَنَّهُ حَجَرٌ لا يَضُرُّ وَلا يَنْفَعُ يُرِيدُ مَا كَانَ عَلَى هَيْئَتِهِ حَجَرًا وَأَنَّهُ إِنَّمَا يُقَبِّلُهُ مُتَابَعَةً لِلسُّنَّةِ
“Amiirul-mukminiin ‘Umar radliyallaahu ‘anhu dulu menyembah batu. Maka ketika beliau membungkuk hendak mencium Ar-Rukn, sepertinya ia khawatir tentang kondisinya dulu di jaman Jaahiliyyah (yang menyembah batu). Maka beliau berlepas diri dari segala sesuatu selain Allah dan mengkhabarkan bahwa ia hanyalah batu yang tidak memberikan kemudlaratan dan tidak pula manfaat – maksud beliau adalah statusnya sebagai batu - , dan bahwasannya beliau hanya menciumnya karena ber-ittibaa’ kepada sunnah” [Syu’abul-Iimaan, 5/471].
An-Nawawiy rahimahullah berkata:
وَأَمَّا قَوْل عُمَر - رَضِيَ اللَّه عَنْهُ - : ( لَقَدْ عَلِمْت أَنَّك حَجَر وَإِنِّي لَأَعْلَم أَنَّك حَجَر وَأَنَّك لَا تَضُرّ وَلَا تَنْفَع ) فَأَرَادَ بِهِ بَيَان الْحَثّ عَلَى الِاقْتِدَاء بِرَسُولِ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي تَقْبِيله ، وَنَبَّهَ عَلَى أَنَّهُ لَوْلَا الِاقْتِدَاء بِهِ لَمَا فَعَلَهُ ، وَإِنَّمَا قَالَ : وَإِنَّك لَا تَضُرّ وَلَا تَنْفَع ؛ لِئَلَّا يَغْتَرّ بَعْض قَرِيبِي الْعَهْد بِالْإِسْلَامِ الَّذِينَ كَانُوا أَلِفُوا عِبَادَة الْأَحْجَار وَتَعْظِيمهَا وَرَجَاء نَفْعهَا ، وَخَوْف الضَّرَر بِالتَّقْصِيرِ فِي تَعْظِيمهَا ، وَكَانَ الْعَهْد قَرِيبًا بِذَلِكَ ، فَخَافَ عُمَر - رَضِيَ اللَّه عَنْهُ - أَنْ يَرَاهُ بَعْضهمْ يُقَبِّلهُ ، وَيَعْتَنِي بِهِ ، فَيَشْتَبِه عَلَيْهِ فَبَيَّنَ أَنَّهُ لَا يَضُرّ وَلَا يَنْفَع بِذَاتِهِ ، وَأنْ كَانَ اِمْتِثَال مَا شَرَعَ فِيهِ يَنْفَع بِالْجَزَاءِ وَالثَّوَاب فَمَعْنَاهُ أَنَّهُ لَا قُدْرَة لَهُ عَلَى نَفْع وَلَا ضَرّ ، وَأَنَّهُ حَجَر مَخْلُوق كَبَاقِي الْمَخْلُوقَات الَّتِي لَا تَضُرّ وَلَا تَنْفَع وَأَشَاعَ عُمَر هَذَا فِي الْمَوْسِم ؛ لِيُشْهَد فِي الْبُلْدَان ، وَيَحْفَظهُ عَنْهُ أَهْل الْمَوْسِم الْمُخْتَلِفُو الْأَوْطَان . وَاَللَّه أَعْلَم .
“Adapun perkataan ‘Umar radliyallaahu ‘anhu : ‘Sesungguhnya aku tahu bahwasannya engkau hanyalah sebuah batu, dan aku tahu bahwa engkau sebuah batu yang tidak memberikan kemudlaratan dan tidak pula manfaat’, maka ia hendak memberikan penjelasan dengannya tentang anjuran untuk meneladani Rasulullahshallallaahu ‘alaihi w sallam dalam menciumnya (Hajar Aswad), dan memberitahukan bahwa seandainya bukan karena maksud untuk meneladani beliau, niscaya ia tidak melakukannya. ‘Umar hanyalah berkata : ‘dan sesungguhnya engkau tidak memberikan mudlarat dan tidak pula manfaat; agar orang-orang yang baru masuk Islam yang dulunya senang menyembah batu, mengagungkannya, dan mengharapkan manfaatnya, dan khawatir terhadap mudlarat yang ditimbulkannya karena kurang dalam pengungannya; tidak terpedaya. Mereka baru saja lepas dari semua itu. Maka ‘Umar radliyallaahu ‘anhu khawatir timbul syubhat pada sebagian orang melihatnya mencium Hajar Aswad dan memberikan perhatian kepadanya. ‘Umar pun menjelaskan bahwa ia (Hajar Aswad) tidak dapat memberikan mudlarat dan tidak pula manfaat dengan dzatnya, serta bahwasannya ia adalah makhluk ciptaan yang tidak dapat memberikan manfaat berupa balasan dan pahala serta tidak dapat memberikan mudlarat. ‘Umar menyebarkan ini pada musim haji agar diketahui di negeri-negeri dan dihapal orang-orang dari berbagai negara yang menunaikan haji di muslim haji. Wallaahu a’lam’ [Syarh Shahiih Muslim, 9/16-17].
Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
وَهُوَ قَاعِدَة عَظِيمَة فِي اِتِّبَاع النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَفْعَلهُ وَلَوْ لَمْ يَعْلَم الْحِكْمَة فِيهِ ، وَفِيهِ دَفْع مَا وَقَعَ لِبَعْضِ الْجُهَّال مِنْ أَنَّ فِي الْحَجَر الْأَسْوَد خَاصَّة تَرْجِع إِلَى ذَاته ، وَفِيهِ بَيَان السُّنَن بِالْقَوْلِ وَالْفِعْل
“Hal tersebut merupakan kaedah yang sangat agung dalam ittibaa’ kepada Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam pada apa yang dilakukan ‘Umar meskipun ia tidak mengetahui hikmah yang terkandung di dalamnya” [Fathul-Baariy, 3/463].
4. Mencium atau mengusap benda-benda tertentu dalam rangka ibadah tidak diperbolehkan kecuali jika ada dalilnya.
Al-Qaadliy Abu Ya’laa rahimahullah ketika menyebutkan alasan pendapat kedua yang beredar dalam madzhabnya (Hanaabilah) tentang permasalahan berkata:
إنما طريقة القربة تقف على التوقيف ولهذا قال عمر ـ رضي الله عنه ـ في الحجر: لولا أني رأيت رسول الله يقبلك لما قبلتك وليس في هذا توقيف
“Jalan mendekatkan diri kepada Allah hanyalah berdiri di atas tauqiif (landasan dalil). Oleh karena itu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu berkata tentang Hajar Aswad : ‘Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menciummu,sungguh aku tidak sudi menciummu’. Dan tidak ada tauqiif dalam perbuatan ini (meletakkan tangan di atas kubur dan mengusap-usapnya)’ [Al-Masaailul-Fiqhiyyah min Kitaab Ar-Riwaayatain wal-Wajhain, 1/215].
Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
قَالَ شَيْخنَا فِي " شَرْح التِّرْمِذِيّ " : فِيهِ كَرَاهَة تَقْبِيل مَا لَمْ يَرِدْ الشَّرْع بِتَقْبِيلِهِ
“Telah berkata Syaikh kami dalam Syarh At-Tirmidziy : ‘Dalam riwayat tersebut terdapat dalil dibencinya mencium sesuatu yang tidak ada dalil dalam syari’at untuk menciumnya’ [Fathul-Baariy, 3/463].
عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَكْرَهُ مَسَّ قَبْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dari Naafi’ : Bahwasannya Ibnu ‘Umar membenci mengusap kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. [Diriwayatkan oleh Muhammad bin ‘Aashim Ats-Tsaqafiy dalamJuuz-nya no. 27, dan darinya Adz-Dzahabiy dalam Mu’jamusy-Syuyuukh 1/45 danAs-Siyar 12/378; shahih].
حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُعَاذٍ، قَالَ: ثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ، قَالَ: ثَنَا سَعِيدٌ، عَنْ قَتَادَةَ، وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى: إِنَّمَا أُمِرُوا أَنْ يُصَلُّوا عِنْدَهُ وَلَمْ يُؤْمَرُوا بِمَسْحِهِ، وَلَقَدْ تَكَلَّفَتْ هَذِهِ الأُمَّةُ شَيْئًا مَا تَكَلَّفَتْهُ الأُمَمُ قَبْلَهَا.......
Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Mu’aadz, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Zurai’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid, dari Qataadah tentang ayat : ‘Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat’ (QS. Al-Baqarah : 125), ia berkata : “Kalian hanyalah diperintahkan untuk shalat di tempat tersebut, dan tidak diperintahkan untuk mengusap-usapnya. Dan sungguh umat ini telah takalluf (memperberat-berat diri) pada sesuatu yang umat sebelumnya tidak ber-takalluf padanya.…..” [Diriwayatkan oleh Ibnu Jariir Ath-Thabariy dalam Tafsiir-nya 2/35; sanadnya hasan].
عَنْ عَطَاءٍ أَنَّهُ كَرِهَ أَنْ يُقَبِّلَ الرَّجُلُ الْمَقَامَ أَوْ يَمْسَحَهُ
Dari ‘Athaa’ : Bahwasannya ia membenci seseorang mencium maqaam (Ibraahiim) dan mengusap-usapnya” [Diriwayatkan oleh Al-Faakihiy dalam Akhbaar Makkah no. 951; sanadnya hasan].
Ada sekelompok orang mempraktekkan ketika ulama mengatakan ‘membenci’ sesuatu; maka itu untuk dilanggar, boleh-boleh saja melakukannya, bahkan menjadi syi’ar dan anjuran dalam ibadah. Memang beda antara salaf dan mereka…..
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.



