Tafsir AlAzhar karangan BUYA HAMKA:
“Tidakkah engkau perhatikan?” (pangkal ayat 1). Atau
tidaklah engkau mendengar berita: “Bagaimana Tuhan engkau berbuat terhadap
orang-orang yang mempunyai gajah?” (ujung ayat 1).
Pertanyaan Allah seperti ini adalah untuk memperkuat berita
penting itu, yang ditujukan mulanya kepada Nabi SAW namun maksudnya ialah untuk
ummat yang percaya seumumnya.
Kisah orang-orang yang mempunyai gajah ini adalah tersebut
dengan selengkapnya di dalam kitab Sirah Ibnu Hisham, pencatat riwayat hidup
Nabi Muhammad SAW yang terkenal.
Ketika itu Tanah Arab bahagian Selatan adalah di bawah
kekuasaan Kerajaan Habsyi. Najasyi (Negus) menanam wakilnya di Arabia Selatan
itu bernama Abrahah. Sebagaimana kita ketahui, Kerajaan Habsyi adalah pemeluk
Agama Kristen. Untuk menunjukkan jasanya kepada Rajanya, Abrahah sebagai Wakil
Raja atau Gubernur telah mendirikan sebuah gereja di Shan’aa diberinya nama
Qullais. Dibuatnya gereja itu sangat indahnya sehingga jaranglah akan
tandingnya di dunia di masa itu. Setelah selesai dikirimnyalah berita kepada
Najasyi: “Telah aku dirikan sebuah gereja, ya Tuanku! Dan aku percaya belumlah
ada raja-raja sebelum Tuanku mendirikan gereja semegah ini. Namun hatiku
belumlah puas orang Arab yang selama ini berhaji ke Makkah, aku palingkan
hajinya ke gereja Tuanku itu.”
Berita isi surat yang pongah ini sampai ke telinga bangsa
Arab, sehingga mereka gelisah. Maka bangkitlah marah seorang pemuka Arab karena
tempat mereka berhaji akan dialihkan dengan kekerasan. Menurut Ibnu Hisyam
orang itu ialah dari kabilah Bani Faqim in ‘Adiy. Maka pergilah dia
sembunyi-sembunyi ke gereja itu, dia masuk ke dalam, dan di tengah-tengah
gereja megah itu diberakinya. Setelah itu dia pun segera pulang ke negerinya.
Berita ini disampaikan orang kepada Abrahah. Lalu dia bertanya:
“Siapakah yang membuat pekerjaan kotor ini?” Ada orang menjawab: “Yang berbuat
kotor ini adalah orang yang membela rumah yang mereka hormati itu, tempat
mereka tiap tahun naik haji, di Makkah. Setelah dia mendengar maksud Paduka
Tuan hendak memalingkan haji orang Arab dari rumah yang mereka sucikan kepada
gereja ini orang itu marah lalu dia masuk ke dalam gereja ini dan diberakinya,
untuk membuktikan bahwa gereja ini tidaklah layak buat pengganti rumah mereka
yang di Makkah itu.”
Sangatlah murka Abrahah melihat perbuatan itu, dan
bersumpahlah dia; akan segera berangkat ke Makkah, untuk meruntuhkan rumah itu!
Dikirimnya seorang utusan kepada Bani Kinanah, mengajak
mereka mempelopori naik haji ke gereja yang didirikannya itu. Tetapi sesampai
utusan itu ke negeri Bani Kinanah dia pun mati dibunuh orang.
Itu pun menambah murka dan sakit hati Abrahah.
Maka disuruhnyalah tentara Habsyinya bersiap. Setelah siap
mereka pun berangkat menuju Makkah. Dia sendiri mengendarai seekor gajah,
diberinya nama Mahmud.
Setelah tersiar berita tentara di bawah pimpinan Abrahah
telah keluar hendak pergi meruntuh Ka’bah sangatlah mereka terkejut dan seluruh
kabilah-kabilah Arab itu pun merasalah bahwa mempertahankan Ka’bah dari serbuan
itu adalah kewajiban mereka. Salah seorang pemuka Arab di negeri Yaman bernama
Dzu Nafar menyampaikan seruan kepada kaumnya dan Arab tetangganya supaya
bersiap menangkis dan menghadang serbuan ini. Mengajak berjihad mempertahankan
Baitullah Al-Haram. Banyaklah orang datang menggabungkan diri kepada Dzu Nafar
itu melawan Abrahah. Tetapi karena kekuatan tidak seimbang, Dzu Nafar kalah dan
tertawan. Tatkala Abrahah hendak membunuh tawanan itu berdatang sembahlah dia:
“Janganlah saya Tuan bunuh. Barangkali ada faedahnya bagi tuan membiarkan saya
tinggal hidup.” Karena permohonannya itu tidaklah jadi Dzu Nafar dibunuh dan
tetaplah Dzu Nafar dibelenggu. Abrahah memang seorang yang suka memaafkan.
Abrahah pun meneruskan perjalanannya. Sesampai di negeri
orang Khats’am tampil pula pemimpin Arab bernama Nufail bin Habib Al-Khats’amiy
memimpin dua kabilah Khats’am, yaitu Syahran dan Nahis dan beberapa kabilah
lain yang mengikutinya. Mereka pun berperang pula melawan Abrahah, tetapi
Nufail pun kalah dan tertawan pula. Ketika dia akan dibunuh dia pun berdatang sembah:
“Tak usah saya tuan bunuh, bebaskanlah saya supaya saya menjadi petunjuk jalan
tuan di negeri-negeri Arab ini.”
Dua kabilah ini, Syahran dan Nahis adalah turut perintah
Tuan. Permintaannya itu pun dikabulkan oleh Abrahah dan tetaplah dia berjalan
di samping Abrahah menjadi penunjuk jalan, sehingga sampailah tentara itu di
Thaif.
Sampai di Thaif pemuka Tsaqif yang bernama Mas’ud bin
Mu’attib bersama beberapa orang pemuka lain datang menyongsong kedatangan
Abrahah, lalu mereka menyatakan ketundukan.
Dia berkata: “Wahai Raja! Kami adalah hambasahaya Tuan, kami
tunduk takluk ikut perintah, tidak ada kami bermaksud melawan Tuan. Di negeri
ini memang ada pula sebuah rumah yang kami puja dan muliakan (yang dimaksudnya
ialah berhala yang bernama Al-Laata). Namun kami percaya bukanlah berhala kami
ini yang Tuan maksud akan diruntuhkan. Yang Tuan maksud tentulah Ka’bah yang di
Makkah. Kami bersedia memberikan penunjuk jalan buat Tuan akan menuju negeri
Makkah itu.” Lalu mereka berikan seorang penunjuk jalan bernama Abu Raghaal!
Lantaran itu Abrahah pun melanjutkan perjalanan dengan Abu Raghaal sebagai
penunjuk jalan, sampai mereka dapat istirahat di satu tempat bernama Mughammis,
suatu tempat sudah dekat ke Makkah dalam perjalanan dari Thaif.
Sesampai mereka berhenti di Mughammis itu tiba-tiba matilah
Abu Raghaal si penunjuk jalan itu. Kubur Abu Raghaal itu ditandai oleh orang
Arab, maka setiap yang lalu lintas di dekat situ melempari kubur itu.
Setelah Abrahah berhenti dengan tentaranya di Mughammis itu diutusnyalah seorang utusan dari bangsa Habsyi ke negeri Makkah. Nama utusan itu Aswad bin Maqfud. Dia pergi dengan naik kuda. Setelah dia sampai di wilayah Makkah dirampasinyalah harta-benda penduduk Tihamah dari Quraisy dan Arab yang lain. Termasuk 200 ekor unta kepunyaai Abdul Muthalib bin Hasyim, yang ketika itu menjadi orang yang dituakan dan disegani dalam kalangan Quraisy. Melihat perbuatan dan perampasan yang dilakukan oleh patroli Abrahah yang bernama Aswad bin Maqfud itu naik darahlah orang Quraisy, orang Kinanah dan Kabilah Huzail yang semuanya hidup dikeliling Makkah yang berpusat kepada Ka’bah, sehingga mereka pun telah menyatakan bersiap hendak berperang melawan Abrahah. Tetapi setelah mereka musyawaratkan dengan seksama, mereka pun mendapat kesimpulan bahwa tidaklah seimbang kekuatan mereka hendak melawan dengan besarnya angkatan perang musuh. Sebab itu perang tidaklah dijadikan.
Lalu Abrahah mengirim lagi perutusannya di bawah pimpinan
Hunathah Al-Himyariy ke Makkah, hendak mencari hubungan dengan pemuka-pemuka
Makkah dan ketua-ketuanya. Lalu utusan itu menyampaikan pesan Abrahah: “Kami
datang ke mari bukanlah untuk memerangi kalian. Kedatangan kami hanyalah
semata-mata hendak menghancurkan rumah ini. Kalau kalian tidak mencoba melawan
kami, selamatlah nyawa dan darah kalian.” Dan Abrahah berpesan pula: “Kalian
memang penduduk Makkah tidak hendak melawan kami, suruhlah salah seorang ketua
Makkah datang menghadapnya ke Mughammis!”
Hunathah itu pun datanglah ke Makkah menyampaikan titah raja
yang tegas itu. Setelah orang yang ditemuinya menyatakan bahwa pemimpin dan
ketua mereka ialah Abdul Muthalib bin Hasyim. Lalu datanglah dia menuju Abdul
Muthalib dan menyampaikan titah raja yang tegas itu.
Mendengar pesan raja itu berkatalah Abdul Muthalib:
Mendengar pesan raja itu berkatalah Abdul Muthalib:
“Demi Allah tidaklah kami bermaksud hendak berperang dengan
dia. Kekuatan kami tidak cukup untuk memeranginya. Rumah ini adalah Rumah
Allah, Bait Allah Al-Haram, dan Rumah Khalil Allah Ibrahim. Kalau Allah hendak
mempertahankan rumah-Nya dari diruntuhkan, itulah urusan Allah sendiri. Kalau
dibiarkannya rumah-Nya diruntuh orang, apalah akan daya kami. Kami tak kuat
mempertahankannya.”
Berkata Hunathah: “Kalau begitu tuan sendiri harus datang
menghadap baginda. Saya diperintahkan mengiringkan Tuan.”
“Baiklah”, kata Abdul Muthalib. Maka beliau pun pergilah
bersama Hunathah menghadap Raja. Beliau diiringkan oleh beberapa orang
puteranya sehingga sampailah mereka ke tempat perhentian laskar itu. Lalu
dinyatakannya keadaan Dzu Nafar yang tertawan itu, sebab dia adalah sahabat
lamanya, sehingga dia pun diizinkan menemuinya dan masuk ke dalam tempat
tahanannya.
Dia bertanya kepada Dzu Nafar: “Hai Dzu Nafar! Adakah
pendapat yang dapat engkau berikan kepadaku tentang kemusykilan yang aku hadapi
ini?”
Dzu Nafar menjawab: “Tidak ada pendapat yang dapat diberikan
oleh seorang yang dalam tawanan raja, yang menunggu akan dibunuh saja, entah
pagi entah petang. Tak ada nasihat yang dapat saya berikan. Cuma ada satu!
Yaitu pawang gajah selalu menjaga gajah raja itu, Unais namanya. Dia adalah
sahabatku. Saya akan mengirim berita kepadanya tentang halmu dan saya akan
memesan bahwa engkau sahabatku supaya dia pun mengerti bahwa engkau ini orang
penting. Moga-moga dengan perantaraannya engkau dapat menghadap raja. Supaya
engkau dapat menumpahkan perasaanmu di hadapannya, dan supaya Unais pun dapat
memujikan engkau di hadapan baginda. Moga-moga dia sanggup.”
“Baiklah”, kata Abdul Muthalib.
Lalu Dzu Nafar mengirim orang kepada Unais pengawal gajah
raja. Kepada Unais itu Dzu Nafar memesankan siapa Adbul Muthalib. Bahwa dia
adalah ketua orang Quraisy, yang empunya sumur Zamzam yang terkenal itu, yang
memberi makan orang yang terlantar di tanah rendah dan memberi makan binatang
buas di puncak-puncak bukit. Untanya 200 ekor dirampas hamba-hamba raja, dia
mohon izin menghadap baginda, dan engkau usahakanlah supaya pertemuan itu
berhasil.
“Saya sanggupi”, kata Unais. Maka Unais pun datanglah
menghadap raja mempersembahkan darihal Abdul Muthali itu: “Daulat Tuanku,
beliau adalah Ketua Quraisy.”
Dia telah berdiri di hadapan pintu Tuanku, ingin menghadap.
Dialah yang menguasai Zamzam di Makkah. Dialah yang memberi makanan manusia di
tanah rendah dan memberi makanan binatang buas di puncak gunung-gunung. Beri
izinlah dia masuk, Tuanku. Biarlah dia menyampaikan apa yang terasa di
hatinya.”
“Suruhlah dia masuk”, titah Raja.
Abdul Muthalib adalah seorang yang rupawan, berwajah menarik
dan berwibawa, besar dan jombang. Baru saja dia masuk, ada sesuatu yang memaksa
Abrahah berdiri menghormatinya dan menjemputnya ke pintuk khemah. Abrahah
merasa tidaklah layak orang ini akan duduk di bawah dari kursinya. Sebab itu
baginda sendirilah yang turun dari kursi dan sama duduk di atas hamparan itu
berdekat dengan Abdul Muthalib. Kemudian itu bertitahlah baginda kepada penterjemah:
“Suruh katakanlah apa hajatnya!”
Abdul Muthalib menjawab dengan perantaraan penterjemah:
“Maksud kedatanganku ialah memohonkan kepada raja agar unta kepunyaanku, 200
ekor banyaknya, yang dirampas oleh hambasahaya baginda, dipulangkan kepadaku.”
Raja menjawab dengan perantaraan penterjemah: “Katakan
kepadanya: Mulai dia masuk aku terpesona melihat sikap dan rupanya, yang
menunjukkan dia seorang besar dalam kaumnya. Tetapi setelah kini dia
mengemukakan soal untanya 200 ekor yang dirampas oleh orang-orangku, dan dia
tidak membicarakan sama-sekali, tidak ada reaksinya sama-sekali tentang rumah
agamanya dan rumah agama nenek-moyangnya yang aku datang sengaja hendak
meruntuhkannya, menjadi sangat kecil dia dalam pandanganku.”
Abdul Muthalib menjawab: “Saya datang ke mari mengurus unta
itu, karena yang empunya unta itu ialah aku sendiri. Adapun soal rumah itu,
memang sengaja tidak saya bicarakan. Sebab rumah itu ada pula yang empunya,
yaitu Allah. Itu adalah urusan Allah.”
Dengan sombong Abrahah menjawab: “Allah itu sendiri tidak
akan dapat menghambat maksudku!”
Abdul Muthalib menjawab: “Itu terserah Tuan, aku datang ke
mari hanya mengurus untaku.”
Unta yang 200 ekor itu pun disuruh dikembalikan oleh
Abrahah. Abdul Muthalib pun segeralah kembali ke Makkah, memberitahukan kepada
penduduk Makkah pertemuannya dengan Abrahah. Lalu dia memberi nasihat supaya
seluruh penduduk Makkah segera meninggalkan Makkah, mengelakkan diri ke
puncak-puncak bukit keliling Makkah atau ke lurah-lurah, agar jangan sampai
terinjak terlindis oleh tentara yang akan datang mengamuk.
Setelah itu, dengan diiringkan oleh beberapa pemuka Quraisy,
Abdul Muthalib pergi ke pintu Ka’bah dipegangnya teguh-teguh gelang pada pintunya lalu mereka berdoa bersama-sama menyeru Allah, memohon pertolongan, dan agar Allah memberikan pembalasannya kepada Abrahah dan tentaranya.
Sambil memegang gelang pintu Ka’bah itu Abdul Muthalib berdo'a:
Abdul Muthalib pergi ke pintu Ka’bah dipegangnya teguh-teguh gelang pada pintunya lalu mereka berdoa bersama-sama menyeru Allah, memohon pertolongan, dan agar Allah memberikan pembalasannya kepada Abrahah dan tentaranya.
Sambil memegang gelang pintu Ka’bah itu Abdul Muthalib berdo'a:
"Ya Tuhanku! Tidak ada yang aku harap selain Engkau! Ya
Tuhanku! Tahanlah mereka dengan benteng Engkau! Sesungguhnya siapa yang memusuhi
rumah ini adalah musuh Engkau. Mereka tidak akan dapat menaklukkan kekuatan
Engkau".
Setelah selesai bermunajat kepada Tuhan dengan memegang
gelang pintu Ka’bah itu, Abdul Muthalib bersama orang-orang yang
mengiringkannya pun mengundurkan diri, lalu pergi ke lereng-lereng bukit, dan
di sanalah mereka berkumpul menunggu apakah yang akan diperbuat Abrahah
terhadap negeri Makkah bilamana dia masuk kelak.
Setelah pagi besoknya bersiaplah Abrahah hendak memasuki
Makkah dan dipersiapkanlah gajahnya. Gajah itu diberinya nama Mahmud. Dan
Abrahah pun telah bersiap-siap hendak pergi meruntuhkan Ka’bah, dan kalau sudah
selesai pekerjaannya itu kelak dia bermaksud hendak segera pulang ke Yaman.
Setelah dihadapkannya gajahnya itu menuju Makkah,
mendekatlah orang tawanan yang dijadikan penunjuk jalan itu, dari Kabilah
Khats’am yang bernama Nufail bin Habib itu. Dia dekati gajah tersebut, lalu
dipegangnya telinga gajah itu dengan lemah-lembutnya dan dia berbisik: “Kalau
engkau hendak dihalau berjalan hendaklah engkau tengkurup saja, hai Mahmud!
Lebih cerdik bila engkau pulang saja ke tempat engkau semula di negeri Yaman.
Sebab engkau sekarang hendak dikerahkan ke Baladillah Al-Haram (Tanah Allah
yang suci lagi bertuah).”
Selesai bisikannya itu dilepaskannyalah telinga gajah itu.
Dan sejak mendengar bisikan itu gajah tersebut terus tengkurup, tidak mau
berdiri. Nufail bin Habib pun pergilah berjalan cepat-cepat meninggalkan tempat
itu, menuju sebuah bukit.
Maka datanglah masa akan berangkat. Gajah disuruh berdiri
tidak mau berdiri. Dipukul kepalanya dengan tongkat penghalau gajah yang agak
runcing ujungnya, supaya dia segera berdiri. Namun dia tetap duduk tak mau
bergerak. Diambil pula tongkat lain, ditonjolkan ke dalam mulutnya supaya dia
berdiri, namun dia tidak juga mau berdiri. Lalu ditarik kendalinya dihadapkan
ke negeri Yaman; dia pun segera berdiri, bahkan mulai berjalan kencang. Lalu
dihadapkan pula ke Syam. Dengan gembira dia pun berjalan cepat menuju Syam.
Lalu dihadapkan pula ke Timur, dia pun berjalan kencang. Kemudian dihadapkan
dia ke Makkah, dia pun duduk kembali, tidak mau bergerak.
Padahal Abrahah sudah siap, tentaranya pun sudah siap.
Dalam keadaan yang demikian itu, demikian uraian Ibnu Hisyam
dalam Siirahnya nampaklah di udara beribu-ribu ekor burung terbang menuju
mereka. Datangnya dari jurusan laut. Burung itu membawa tiga butir batu;
sebutir di mulutnya dan dua butir digenggamnya dengan kedua belah kakinya.
Dengan serentak burung-burung itu menjatuhkan batu yang di bawanya itu ke atas
diri tentara-tentara yang banyak itu. Mana yang kena terpekik kesakitan karena
saking panasnya. Berpekikan dan berlarianlah mereka, tumpang siur tidak tentu
arah, karena takut akan ditimpa batu kecil-kecil itu yang sangat panas membakar
itu. Lebih banyak kena daripada yang tidak kena.
Semua menjadi kacau-balau dan ketakutan. Mana yang kena
terkaparlah jatuh, dan yang tidak sampai kena hendak segera lari kembali ke
Yaman. Mereka cari Nufail bin Habib untuk menunjuki jalan menuju Yaman, namun
dia tidak mau lagi, malahan dia bersyair:
“Kemana akan lari, Allahlah yang mengejar, Asyram (Abrahah)
yang kalah, bukan dia yang menang.”
Kucar-kacirlah mereka pulang. Satu demi satu mana yang kena
lontaran batu itu jatuh. Dan yang agak tegap badannya masih melanjutkan
pelarian menuju negerinya, namun di tengah jalan mereka berjatuhan juga. Adapun
Abrahah sendiri yang tidak terlepas dari lontaran batu itu masih sempat naik
gajahnya menuju Yaman, namun di tengah jalan penyakitnya bertambah
membahayakan. Terkelupas kulitnya, gugur dagingnya, sehingga sesampainya di
negeri Yaman boleh dikatakan sudah seperti anak ayam menciap-ciap. Lalu mati
dalam kehancuran.
Maka terkenallah tahun itu dengan nama “Tahun Gajah”.
Menurut keterangan Nabi SAW sendiri dalam sebuah Hadis yang shahih, beliau dilahirkan
adalah dalam tahun gajah itu. Demikianlah disebutkan oleh Al-Mawardi di dalam
tafsirnya. Dan tersebut pula di dalam kitab I’lamun Nubuwwah, Nabi SAW
dilahirkan 12 Rabiul Awwal, 50 hari saja sesudah kejadian bersejarah kehancuran
tentara bergajah itu.
Setelah Nabi kita SAW berusia 40 tahun dan diangkat Allah
menjadi Rasul SAW masih didapati dua orang peminta-minta di Makkah, keduanya
buta matanya. Orang itu adalah sisa dari pengasuh-pengasuh gajah yang menyerang
Makkah itu.
“Bukankah telah Dia jadikan daya upaya mereka itu pada
sia-sia?” (ayat 2).
Usaha yang begitu sombong dan besar, jawaban Abrahah kepada Abdul Muthalib, bahwa Allah sendiri tidak akan sanggup bertahan kalau dia datang menyerang. Segala maksudnya hendak menghancurkan itu sia-sia belaka, dan gagal belaka.
Usaha yang begitu sombong dan besar, jawaban Abrahah kepada Abdul Muthalib, bahwa Allah sendiri tidak akan sanggup bertahan kalau dia datang menyerang. Segala maksudnya hendak menghancurkan itu sia-sia belaka, dan gagal belaka.
Tersebut dalam riwayat bahwa Abdul Muthalib yang tengah
meninjau dari atas bukit-bukit Makkah apa yang akan dilakukan oleh tentara
bergajah itu melihat burung berduyun-duyun menuju tentara yang hendak menyerbu
Makkah itu. Kemudian hening tidak ada gerak apa-apa.
Lalu diperintahnya anaknya yang paling bungsu, Abdullah (ayah Nabi kita Muhammad SAW) pergi melihat-lihat apa yang telah kejadian, ada apa dengan burung-burung itu dan ke mana perginya. Maka dilakukannyalah perintah ayahnya dan dia pergi melihat-lihat dengan mengendarai kudanya. Tidak beberapa lamanya dia pun kembali dengan memacu kencang kudanya dan menyingsingkan kainnya. Setelah dekat, dengan tidak sabar orang-orang bertanya: “Ada apa, Abdullah?”
Lalu diperintahnya anaknya yang paling bungsu, Abdullah (ayah Nabi kita Muhammad SAW) pergi melihat-lihat apa yang telah kejadian, ada apa dengan burung-burung itu dan ke mana perginya. Maka dilakukannyalah perintah ayahnya dan dia pergi melihat-lihat dengan mengendarai kudanya. Tidak beberapa lamanya dia pun kembali dengan memacu kencang kudanya dan menyingsingkan kainnya. Setelah dekat, dengan tidak sabar orang-orang bertanya: “Ada apa, Abdullah?”
Abdullah menjawab: “Hancur-lebur semua!” Lalu
diceriterakannya apa yang dilihatnya, “Bangkai bergelimpangan dan ada yang
masih menarik-narik nafas akan mati dan sisanya telah lari menuju negerinya.”
Maka berangkatlah Abdul Muthalib dengan pemuka-pemuka
Quraisy itu menuju tempat tersebut, tidak berapa jauh dari dalam kota Makkah.
Mereka dapati apa yang telah diceriterakan Abdullah bin Abdul Muthalib itu.
Bahkan 200 ekor unta Abdul Muthalib dan harta-benda yang lain, dan harta-benda
yang ditinggalkan, kucar-kacir oleh tentara yang hancur itu. Baik kuda-kuda
kendaraan, ataupun pakaian-pakaian perang yang mahal-mahal, alat senjata
peperangan, pedangnya, perisainya dan tombaknya dan emas perak banyak sekali.
Maka sepakatlah kepala-kepala Quraisy itu memberikan kelebihan pembahagian yang
banyak untuk Abdul Muthalib, sebab dia dipandang sebagai pemimpin yang
bijaksana. Dengan keahliannya dapat menghadapi musuh yang begitu besar dan
begitu sombong.
Sebagai kita katakan tadi, 50 hari sesudah kejadian itu,
Nabi Muhammad SAW pun lahirlah ke dunia. Tetapi ayahnya dalam perjalanan ke
Yatsrib, kampung dari keluarga ayahnya. Di sana dia meninggal sebelum puteranya
lahir. Berkata Ibnu Ishaq: “Setelah penyerangan orang Habsyi terhadap Makkah
itu digagalkan dan dihancurkan oleh Allah sendiri, bertambah penghargaan dan
penghormatan bangsa Arab kepada Quraisy. Sehingga mereka katakan: ‘Orang
Quraisy itu ialah Keluarga Allah. Allah berperang untuk mereka.”
“Dan Dia telah mengirimkan ke atas mereka burung
berduyun-duyun.” (ayat 3).
Burung-burung itu berduyun datang dari laut. Ahli-ahli tafsir bicara macam-macam tentang keadaan burung itu. Namun apa jenis burung tidak penting kita perkajikan. Sembarang burung pun dapat dipergunakan Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya. Sedangkan tikus bisa merusakkan sebuah negeri dengan menyuruh tikus itu memakan padi yang sedang mulai masak di sawah. Sedangkan belalang berduyun-duyun beratus ribu dapat membuat satu negeri jadi lapar, apatah lagi burung berduyun-duyun (ababil).
Burung-burung itu berduyun datang dari laut. Ahli-ahli tafsir bicara macam-macam tentang keadaan burung itu. Namun apa jenis burung tidak penting kita perkajikan. Sembarang burung pun dapat dipergunakan Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya. Sedangkan tikus bisa merusakkan sebuah negeri dengan menyuruh tikus itu memakan padi yang sedang mulai masak di sawah. Sedangkan belalang berduyun-duyun beratus ribu dapat membuat satu negeri jadi lapar, apatah lagi burung berduyun-duyun (ababil).
“Yang melempari mereka dengan batu siksaan?” (ayat 4).
Batu yang mengandung azab, batu yang mengandung penyakit. Ada tafsir mengatakan bahwa batu itu telah direndang terlebih dahulu dengan api neraka. Syaikh Muhammad Abduh mencoba mentakwilkan bahwa batu itu membawa bibit penyakit cacar. Menurut keterangan Ikrimah sejak waktu itulah terdapat penyakit cacar di Tanah Arab. Ibnu Abbas mengatakan juga bahwa sejak waktu itu adanya penyakit cacar di Tanah Arab.
Dapat saja kita menerima penafsiran ini jika kita ingat
bahwa membawa burung atau binatang dari satu daerah ke daerah yang lain,
walaupun satu ekor, hendaklah terlebih dahulu diperiksakan kepada doktor,
kalau-kalau burung itu membawa hama penyakit yang dapat menular. Demikian juga
dengan tumbuh-tumbuhan. Demikian seekor burung, bagaimana kalau beribu burung?
“Lalu Dia jadikan mereka seperti daun kayu yang dimakan
ulat.” (ayat 5).
Laksana daun kayu dimakan ulat, memang adalah satu perumpamaan
yang tepat buat orang yang diserang penyakit cacar (ketumbuhan), seluruh badan
akan ditumbuhi oleh bisul yang panas, malahan sampai ada yang tumbuh dalam
mata. Telapak kaki yang begitu tebal pun tidak terlepas, dan muka pun akan
coreng-moreng dari bekasnya.
Sebagai yang telah penulis alami (1923).
Al-Qurthubi menulis dalam tafsirnya: “Hikayat tentara
bergajah ini adalah satu mu’jizat lagi dari Nabi kita, walaupun beliau waktu
itu belum lahir.” Dan tidak ada orang yang akan dapat melupakan bahwa
nenek-kandungnya mengambil peranan penting pada kejadian ini.
Dari kisah diatas tergambar jelaslah bahwa Abdul Muthalib
menganut ajaran yang hanif sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Ibrahim.
Begitu pula dengan Abdullah yang merupakan putra kesayangan dari Abdul Muthalib
sudah barang tentu mengikut ajaran yang dianut oleh Ayahandanya yang merupakan
pembesar Quraisy yang termasyur keseluruh penjuru. Apatah lagi Siti Aminah yang
merupakan wanita shalihah dan istri dari Abdullah bin Abdul Muthalib sudah
barang tentu mengikut ajaran yang dianut suaminya.